BREAKING

Sabtu, 04 Maret 2017

Sekarung Mimpi


Aku pernah menjadi seorang perempuan dengan setumpuk mimpi menggunung. Menjadi seorang ibu dengan kriteria begini begitu. Melakukan A,B,C,D hingga Z demi sebuah sosok kriteria ibu ideal era sosial media. Aku pernah merasa begitu sok tahu semuanya dapat dengan mudah kujalani. Namun, nyatanya ada hal-hal yang hanya mampu kupelajari tapi tak mampu kujalani. Bukan karena aku tak mencoba, tapi begitulah keadaannya. Ketika aku terus memaksakan keinginanku, kemampuan itu justru semakin menjauh. Ketika aku terus memaksakan kehendak, apa yang kuharapkan ternyata semakin menjauh dari kenyataan.

Lalu, aku belajar. Terkadang, kita memang harus pause menjalani hidup ini. Tidak hanya ada satu cara untuk mencapai sesuatu. Ada waktunya, satu cara terbaik tak bisa kita lakukan, dan kita harus menurunkan standard kita dengan cara yang kedua. Apakah lantas kita bodoh dengan hal yang demikian? Dulu aku juga berpikir begitu. Sampai aku menyadari satu hal. Bahwa seorang ibu bodoh adalah ia yang terus memaksakan diri untuk menjadi kriteria ibu ideal, padahal hatinya tidak bahagia. Begitulah aku belajar menerima.

Dulu, aku adalah perempuan dengan ambisi sebanyak biintang di langit. Ingin kuliah lagi. Ingin jadi penulis dengan begini begitu. Ingin travelling ke berbagai negara. Dan sebagainya. Aku bekerja keras untuk itu semua. Aku ingin semuanya tercapai sempurna. Aku tak peduli jika harus sakit. Tapi, keadaan ini berbeda. Hidupku sekarang bukan hanya tentang aku seorang.

Ketika aku ingin sesuatu hal, maka sangat sering, sesuatu yang lain kukorbankan. Hingga proses memilah dan memilih itu menjadi sesuatu yang menyakitkan. Nyatanya, aku tidak bisa mencapai semuanya dengan sempurna.

Lalu, dari sesosok suami yang sangat tenang, aku mulai mengerti, bahwa mengejar itu semua tak perlu menjadi ambisius. Pelan-pelan saja. Berusaha. Tanpa perlu ngotot semuanya harus tercapai. Terkadang, motivasi berlebihan memang membuat kita tidak sadar telah mengatur Allah agar sesuai mau kita. Ah, sungguh. Padahal Allah punya mau sendiri. Allah punya jalan sendiri. Tugas kita hanyalah berusaha mencapai mau kita, sekaligus menerima dengan lapang jika mau kita bukanlah apa yang dimau Allah.

GOODBYE LETTER - SUGIARTI NORVIA

Dear All,


After 2,3 years of service with PT. Dipa Puspa Labsains, Feb 28th, 2017 is my last day. Since I made this decision, I have had some time to reflect on my time spent here and what I came up with is pretty simple : I enjoyed working here. I've enjoyed adapting into many people throughout the organization. I've enjoyed tackling the different challenges presented to me. But, most importantly, I've enjoyed developing both professional and personal relationship with all of you.

You have all,in one way or another, helped mentor and guide me throughout my career. For all of this guidance, I will be forever thankful. I am grateful for the friendship which, no doubt, will last a lifetime.

I would like to thank you :

-My Bosses : Mr. Utoyo, Mr. Haryanto, Mrs. Sianita, Mr. Rahadyan, Mr. Budi Nusatio, Mr. Jimmy, Mrs. Khairunnisa


- Our Principal :
- Tintometer GMBH : Marisa Levo, Sam Chui, Sandra Krussig, Matthias Reindel.
- Tintometer LTD : Matthew Russell, Barry Coombes, Karen Stockwell


- All of DPL Sales & marketing team , Service Department, Admin, Customer services, PPIC & import team, RA team, Logistic team, BD team, General Affairs..and all my colleagues that I can't mention one by one.


I hope our paths cross in the near future so we can reminisce about all the good times we had. I also want to appology for every mistakes and misunderstanding which happened in the past.

Once again, my husband join me in thanking you for everything.
You will always be remembered. My very best wishes for all of you and the company as well.


Please do not take this email as a farewell email, hopefully we still keep in touch, and you may reach me at :
my private mail : norvia.sn@gmail.com
my phone : +62 85740554054



Warmest Regards,


Sugiarti Norvia
Product Executive - Environmental

Kamis, 02 Februari 2017

Senja Memerah


Tadi, senja kembali memerah.

Seperti membuka cerita yang dibawa angin. Seperti hendak berkelakar pada teratai di pertengahan danau. Seperti hendak bercerita tentang jernihnya air. Namun juga membariskan lagi harapan-harapan sembunyi.

Tadi, senja memerah lagi. Ia berpesan padaku tentang rindu bulan yang lama tak kujamah. Juga tentang kita yang selalu ada. Ia berkedip memujiku yang mengaku bisa mengurai kenangan menjadi kekuatan. Ia berbisik tentang dimana rindu selama ini saling sembunyi. Ia bercerita tentang langit yang masih menunggu untuk mempersembahkan malamnya hanya pada bulan. Bukankah begitu janji langit dulu pada sang Robb? Senja mengingatkanku bahwa malam yang dinanti bulan itu ada.

Senja mengingatkanku pada rasa kasih bulan yang meluap pada bintang, juga tentang cara langit menentramkannya. Senja memintaku untuk sekedar menatap bulan malam ini.

Senja memerah itu masih saja memotret ujung penaku dan penamu yang bertemu dalam paduan ilustrasi dan rangkaian huruf penuh rindu.

Salam dari senja.

Senja itu kita duduk bersama menunggu pertemuan bulan dan langit malam. Percayalah, langit malam sejatinya membentang untuk bulan. Bukankah hanya bulan yang diizinkan langit untuk membentuk fase yang berbeda di tiap siklusnya?

Purnama akan tiba, tunggu saja. Ini hanya soal kekuatan hati. Nanti kita akan menyadari, malam masih akan tetap menentramkan, dimana seseorang yang membersamaiku sepanjang hidupku, adalah dirimu...

Terimakasih atas segalanya zauji........

Senin, 30 Maret 2015

Keberpasrahan diri

Keberpasrahan diri..

bukan sebuah kata pesimis atau keputus-asaan ketika seorang insan sudah berjuang penuh mengeluarkan titik nadir penghabisan dan berdoa..
berlebihan memang, namun sebuah perjuangan yang tak kenal henti, bergerak tak terbatas, meraib segala yang terhampar untuk mencapai titik kulminasi...
terlalu banyak yang tak bisa diungkapkan memang...

Setiap doa bersanding dalam perjuangan berat itu..
Bahkan, tak jarang, jatuh dan terjerembab menghiasi segala yang dinamakan perjuangan..
Lantas haruskah kita memaksa sebuah kehendak yang memang tak bisa dipaksakan?

Tawakkal lah, ya.. tawakkal lah...
Ketika sudah maksimal menghadapi semuanya, sudah berdoa dengan tulus dan ikhlas, namun takdir berkata lain.. maka, bertawakkal-lah...

Allah sudah menetapkan segalanya...
mungkin, kisah indah itu memang belum berpihak saat ini...

Mengapa harus memaksakan? Lakukan dengan hati... Lakukan dengan tulus...

Allah mempertemukan untuk satu alasan, untuk belajar atau mengajarkan...
Entah akan menjadi yang terbaik, atau hanya sekedarnya...
Namun, lakukan dengan tulus dan sungguh-sungguh...
Meskipun tidak sesuai dengan yang diharapkan...
Tidak akan ada yang sia-sia..
Karena Allah yang mempertemukan...

Ketika berpasrah diri, berserah diri, bertawakkal, berharap hanya pada Sang Ilahi, dan takut akan segala ketetapan yang akan diberikan berbeda dengan harapan menghiasi, semoga segala yang dilakukan ini mendaapatkan yang terbaik nantinya di surgaNya...

Jangan pernah menyerah, namun, berserah dirilah ketika sudah benar-benar berjuang dengan titik darah nadir penghabisan dan berdoa penuh keikhlasan...
Wallahua'lam...

Senin, 16 Maret 2015

Sesuatu yang dari Hati Jatuhnya Pasti ke Hati


Aku sangat berkesan akan agenda hari minggu ini. Ahad ini adalah hari pertemuan akhwat kampus kota. Ahad ini aku rasa adalah hari yang sangat berkesan, bahkan melebihi hari dimana aku mendapat kehormatan memakai slempang bertuliskan CUMLAUDE saat pengesahanku sebagai sarjana.

Aku mendapat kehormatan membuat puisi dan membacakannya di depan semua peserta akhwat. Setengah jam pun berlalu, jadilah puisi bermelodi melankolis dan beberapa paragraf kisahku. Aku menghayati puisi yang aku tulis kata demi kata, tak terasa air mata mengalir tumpah saat aku membaca bait kedua. Hati rasanya tak ingin melanjutkan membacanya, karena aku sudah melanggar perjanjian pasal 1 pada almarhum ayah, “jangan menangis di depan manusia”. Namun, aku tahu, the show must go on, aku membacanya sambil menangis sampai selesai baris dan bait. Aku baru sadar ketika selesai, semua pesertapun sudah larut terhipnotis dalam tangisan mendalam. Maafkan aku akhwatfillah, ini benar-benar mengalir dari hati... Untung saja semua peserta adalah akhwat, kalau tidak, sudah tak terbayangkan betapa malunya diri ini..

Aku bahagia hari ini. Aku mengenal banyak teman aktivis kampus disini, melebihi banyaknya teman liqo yang aku kenal dan beberapa sudah berkeluarga. Aku tertawa, bercerita, makan bersama, membagi pesan antara satu dengan yang lainnya, dan tak lupa saling bertukar contact. Meskipun tak semua kukenal, setidaknya aku bahagia menjadi salah satu diantara mereka. Akupun mendapat oleh-oleh sebuah surat cinta dari sang murobbi (ummi tercinta), juga sebuah kado bingkisan untuk tulisan terbaik, serta hadiah juara lomba kelompok pemberi pesan terbaik.

Sampai sekarang belum aku buka, karena baru boleh dibuka ba’da maghrib.. hehe..

Sejenak aku mengingat momen saat aku membuat puisi dan membacakannya di hari aksi pilgub bersih, bersama KAMMDA Semarang, untung saja saat itu aku membuat puisi bermelodi semangat dan membakar jiwa, bukan puisi melankolis. Dengan begitu, aku bisa membacanya dengan nada orasi. Andai saat itu puisi melankolis yang tertulis, mungkin, sudah pasti menangis di depan videotron dan semua khalayak ikhwan akhwat, mungkin... wallahua’lam..

Jumat, 02 Januari 2015

Surat Penantian untukmu Wahai Imamku..


 Assalamu'alaikum wr.wb.

Teruntuk imamku...
Izinkan pena ini menuliskan beberapa kalimat untukmu. Melepaskan penat karena menunggumu dengan penuh pengharapan. Berharap penantian ini akan mempertemukan kita, entah esok, lusa atau kapanpun. Kau tau kekasihku? Saat ini aku menantimu dengan menjaga izzah dan iffahku. Menantimu dengan penuh penghormatan hingga waktu itu tiba. Aku tak pernah bosan menantimu disini, karena aku yakin Allah telah menetapkan waktu yang tepat untuk kita berdua.

Wahai imamku...
Penantian ini kadang membosankan dan terbersit kata putus asa dalam hati. Tapi, aku selalu mencoba tegar, mengembalikan puing-puing semangat yang sempat hilang. Terlalu banyak yang ingin kuceritakan nanti, saat kita dipersatukan oleh-Nya. Ingin aku bercerita bagaimana saat aku jatuh bangun menantimu. Masa penantian seperti masa memantaskan diri, mengisinya dengan ikhtiar terbaik.

Kau tahu imamku...
Menapaki masa penantian ini tidaklah mudah, banyak cobaan yang seringkali menguji imanku. Tapi, aku selalu berusaha melakukan yang terbaik dan menunggu dengan cara yang terbaik pula. Kelak di masa depan aku bisa menjadi yang terbaik untukmu. Aku percaya Allah tak akan pernah meninggalkan hamba yang taat kepada-Nya.

Aku seperti orang bodoh, menari-nari sendiri dengan rasa yang selalu saja sama yaitu menanti. Akupun sebenarnya tak tahu siapa sebenarnya yang aku nanti. Namanya saja masih rahasia. Tapi yang kuyakini hanya kalimat ini 

"Good Woman are for good man

itu janji Allah. Maka, disini aku menantimu dengan menjaga hatiku, mendirikan tabir pertahanan dari nafsu yang ingin meraib kesucian hati.

Semoga imanmu juga selalu terjaga, menjaga pandanganmu dan tutur katamu. Semoga Allah senantiasa menuntun langkahmu hingga terhenti di persimpangan penantian ini. Aku akan menunggumu dengan cara yang sama. Tenang saja, semoga Allah selalu menjaga hati kita berdua hingga kita dipersatukan oleh-Nya dalam ikatan yang halal.

Kau tahu, aku mencoba tak berkeluh lagi tentang berapa lama lagi aku akan menunggu. Dan, aku tidak akan pernah bertanya kepada Sang Pemilik kuasa, kapan kau akan datang menjemputku. Karena toh sejatinya semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz jauh hari sebelum kita lahir di dunia ini.

Aku hanya ingin hidup lebih baik lagi sembari menanti. Aku ingin menuntut ilmu agama dan berdakwah di jalan Allah agar nantinya aku tidak terbata-bata menjawab jika engkau bertanya kepadaku tentang apa yang kulakukan sebelum bertemu denganmu.

Kau tahu, aku tak mampu menggambarkan suka duka dalam rasa penantian. Juga tak mampu menguak rasa selama masa penantian dan juga takkan mampu mendikte waktu yang terlewatkan selama ini. Kau memang masih sangat jauh, bayangmu tak terlihat sama sekali. Saat ini kau hanya fatamorgana yang hidup dalam khayalku. Bahkan, aku membayangkan bagaimana figur calon imamku nantinya. Bagiku, kamu begitu sempurna dalam sketsa khayalku. Tapi, lagi, dan lagi, itu hanya imajinasiku. Semuanya kupasrahkan kepada-Nya. Tentang siapa namamu, dimana kau sekarang, dan kapan kita dipertemukan. Yang pasti, aku masih setia dan menikmati masa ini.

Wassalamu'alaikum, wr.wb.

Salam Cinta untuk Allah



Hmmm... harus mengakui ini bukan lagi galau, edisi ini hanya ingin invite teman-teman yang lain... mengikuti cara ini.. untuk transfer energi postive... :)

Sabtu, 20 September 2014

Doa rabithah izzatul islam untuk semua teman2 seperjuangan yang telah menghiasi kehidupanku



welcome.. :)

Rabu, 07 Mei 2014

Cinta Sepasang Insan Mulia, Ali dan Fatimah

Ali adalah anak dari paman Nabi Muhammad Rasulullah Saw, yaitu Abi Thalib. Sebut saja, Ali adalah sepupu Rasul. Abi Thalib sangat sayang kepada Rasul. Sepeninggal orang tua Rasul, Abi Thaliblah yang merawat Rasul bahkan selalu membela Rasul dalam memperjuangkan dakwah Islam walaupun pada ajalnya Abi Thalib wafat bukan sebagai muslim. Rasul sangat sedih mengenai hal itu.
Ali sejak kecil tinggal bersama Rasul, kalau tidak salah semenjak umur Ali tujuh tahun. Ali merupakan satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan ia adalah yang paling muda di antara yang lain. Ia termasuk tokoh Islam atau sahabat Rasul yang sangat berpengaruh dan berjasa. Ali adalah pemuda yang gagah, tampan, kuat dan cerdas. Bahkan Rasul pernah berkata jikalau Rasul adalah sebuah gudang ilmu maka Alilah gerbang untuk memasuki gudang tersebut.
Setelah sepeninggal Rasul, Islam dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin, Ali menjadi Khulafaur Rasyidin setelah Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan.
Sedangkan Fatimah az-Zahra adalah putri kesayangan Rasul dari pernikahan beliau dengan Siti Khadijah binti Khuwailid. Khadijah adalah istri pertama Rasul. Seorang saudagar kaya yang cantik dan berakhlak mulia. Menurut berbagai riwayat, Khadijah adalah orang yang paling pertama masuk Islam. Khadijah sangat setia dan rela berkorban apapun demi Rasul dan Islam. Rasul pun sangat sayang kepada Khadijah. Selama Rasul menjadi suami Khadijah, Rasul tidak memadu Khadijah dengan perempuan lain. Ketika Khadijah meninggal, Rasul sangat sedih, begitu pula dengan Fatimah.
Fatimah adalah perempuan yang tegar, cantik, baik dan lembut. Sebagai anak yang berbakti pada ayahnya, Fatimahlah yang mengurus Rasul sejak Khadijah meninggal sampai Rasul menikah lagi.

Sampai suatu ketika, saat Rasul menjelang wafat, Fatimahlah orang yang sangat sedih jika Rasul meninggalkannya tapi Fatimah juga adalah yang paling bahagia karena kata Rasul setelah sepeninggal Rasul, Fatimahlah yang pertama kali akan menyusul Rasul ke surga.
Sejak Ali ikut tinggal bersama Rasul dan keluarganya, otomatis Ali tinggal bersama Fatimah. Mereka berdua tinggal dan melewati hari-hari bersama sejak kecil. Hingga menjelang remaja, tumbuhlah rasa cinta Ali kepada Fatimah. Hatinya dipenuhi keinginan untuk selalu berada di samping Fatimah. Tapi Ali tidak bodoh. Ia adalah pemuda yang beriman. Ali berusaha untuk selalu menjaga hatinya. Ia pendam rasa cinta itu bertahun-tahun. Ia simpan rasa itu jauh di dalam lubuk hatinya bahkan si Fatimah pun tidak pernah tahu bahwa Ali menyimpan lama rasa cinta yang luar biasa untuknya.
Hingga ketika Ali telah dewasa dan telah siap untuk menikah, maka Ali pun berniat menghadap Rasul dengan tujuan ingin melamar putri Rasul yang tak lain adalah Fatimah, seorang perempuan yang sudah lama Ali kagumi. Tapi sayang, niat Ali telah didahului oleh Abu Bakar yang sudah duluan melamar Fatimah. Ali pun harus ikhlas bahwa cintanya selama ini berakhir pupus. Apalagi Abu Bakar adalah sahabat setia Rasul yang sangat shalih dan begitu sayang kepada Rasul, dan rasul pun menyayanginya. Sedangkan Ali merasa dirinya hanyalah seorang  pemuda yang miskin. Sungguh jauh bila dibandingkan dengan seorang mulia seperti Abu Bakar, pikirnya.
Rencana Allah memang sulit ditebak oleh manusia, ternyata Rasul hanya diam ketika Abu Bakar melamar putri beliau. Maksudnya, Rasul menolak secara halus lamaran Abu Bakar. Ali pun senang. Karena masih merasa memiliki kesempatan melamar Fatimah. Maka Ali pun bergegas ingin segera melamar Fatimah sebelum didahului lagi.
Namun sungguh sayang sekali, lagi-lagi Ali didahului oleh Umar. Lagi-lagi, hati Ali tersayat. Ali sangat bersedih. Sama seperti dengan Abu Bakar, Ali merasa tak ada harapan lagi. Lagipula, apakah cukup dengan cinta ia akan melamar Fatimah? Karena ia hanyalah seorang pemuda biasa yang mengharapkan seorang putri Rasul yang luar biasa. Berbeda bila dibandingkan dengan Umar seorang keturunan bangsawan yang gagah dan berkharisma. Dan, Ali yakin Fatimah pasti akan bahagia bersama Umar.
Maka Ali pun hanya bisa bertawakal kepada Allah, semoga dikuatkan dengan derita cinta yang sedang dialaminya. Kali ini, Ali harus benar-benar ikhlas dan tegar menghadapi kenyataan itu. Namun Ali adalah pemuda yang shalih. Ia pun yakin bahwa Allah MahaAdil. Pasti Allah sudah mempersiapkan pendamping hidup baginya. Derita cinta memang menyakitkan. “Aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah diatas cintaku,” bisik Ali dalam hati.
Disaat Ali merasakan derita cintanya,  tak disangka-sangka, datanglah Abu Bakar dengan senyum indahnya. Dan memberitahu Ali untuk segera bertemu dengan Rasul karena ada yang ingin beliau sampaikan. Pikir Ali, pasti ini tentang pernikahan Umar dengan Fatimah. Sepertinya Rasul meminta Ali untuk membantu persiapan pernikahan mereka. Maka Ali pun menyemangati dirinya sendiri agar kuat dan tegar. Walaupun sebenarnya, hatinya sangat perih teriris-iris. Apalagi harus membantu mempersiapkan dan menyaksikan pujaan hatinya menikah dengan orang lain.
Sungguh rencana Allah memang yang paling indah. Setelah Ali bertemu Rasul, tak disangka, lamaran Umar bernasib sama dengan lamaran Abu Bakar. Bahkan Rasul menginginkan Ali untuk menjadi suami Fatimah. Karena Rasul sudah lama tahu bahwa Ali telah lama memendam rasa cinta kepada putrinya. Ali pun sangat bahagia dan bersyukur. Ia pun langsung melamar Fatimah melalui Rasul. Tapi, Ali malu kepada Rasul karena ia tak memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar. Apalagi ia selama ini dihidupi oleh Rasul sejak kecil.
Namun, sungguh mulia akhlak Rasul. Beliau tidak membebankan Ali. Rasul berkata bahwa nikahilah Fatimah walaupun hanya bermahar cincin besi. Akhirnya, Ali menyerahkan baju perangnya untuk melamar Fatimah. Rasul pun menerima lamaran itu. Fatimah pun mematuhi ayahnya serta siap menikah dengan Ali. Akhirnya Ali pun menikah dengan Fatimah, perempuan yang telah lama ia cintai.
Sekarang, Fatimah telah menjadi istri Ali. Mereka telah halal satu sama lain. Beberapa saat setelah menikah dan siap melewati awal kehidupan bersama, yaitu malam pertama yang indah hingga menjalani hari-hari selanjutnya bersama, Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai suamiku Ali, aku telah halal bagimu. Aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan aku suami yang tampan, shalih, cerdas dan baik sepertimu.”
Ali pun menjawab, “Aku pun begitu, wahai Fatimahku sayang. Aku sangat bersyukur kepada Allah, akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu.”.
Fatimah pun berkata lagi dengan lembut, “Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? Karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tangga kita.”
Kata Ali, “ Tentu saja istriku, silahkan. Aku akan mendengarkanmu.”
Fatimah pun berkata, “Wahai Ali suamiku, maafkan aku. Tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda. Aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya, ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku adalah istrimu. Kau adalah imamku, maka aku pun ikhlas melayani, mendampingi, mematuhi dan menaatimu. Marilah kita berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhai Allah.”
Sungguh bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi bahtera kehidupan bersama. Suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus dari hati perempuan shalihah. Tapi, Ali juga terkejut dan sedih ketika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya, ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa bersalah karena sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah. Ali kagum dengan Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri Ali dengan ikhlas.
Namun Ali memang pemuda yang sangat baik hati. Ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami Fatimah. Tapi karena rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada Fatimah, hati Ali pun merasa tidak tega jika hati Fatimah terluka. Karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang, Fatimah sedang merasakannya. Ali bingung ingin berkata apa, perasaan di dalam hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya. Tapi di sisi lain, Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka. Ali pun terdiam sejenak. Ia tak menanggapi pernyataan Fatimah.
Fatimah pun lalu berkata, “Wahai Ali, suamiku sayang. Astagfirullah, maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu. Demi Allah, aku hanya ingin jujur padamu.”
Ali masih saja terdiam. Bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah yang cantik itu. Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, “Wahai suamiku Ali, tak usahlah kau pikirkan kata-kataku itu.”
Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fatimah, tiba-tiba Ali pun berkata, “Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu. Kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh, aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti. Aku begitu merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta kepadaku. Walupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai akhirnya kau mencintaiku.”
Fatimah pun tersenyum haru mendengar kata-kata Ali. Ali diam sesaat sambil merenung. Tak terasa, mata Ali pun mulai keluar airmata. Lalu dengan sangat tulus, Ali berkata, “Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikitpun dari dirimu. Kau masih suci. Aku rela agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu. Aku akan ikhlas, lagipula pemuda itu juga mencintaimu. Jadi, aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Karena ia pasti akan membahagiakanmu. Aku tak ingin cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan. Sungguh aku sangat mencintaimu. Demi Allah, aku tak ingin kau terluka.”
Dan Fatimah juga meneteskan airmata sambil tersenyum menatap Ali. Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya. Cinta yang dilandaskan keimanan yang begitu kuat. Ketika itu juga, Fatimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, “Tapi Fatimah, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu? Aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu. Namun ijinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu.”
Airmata Fatimah mengalir semakin deras. Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu, “Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah.” Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya.
Setelah emosinya bisa terkontrol, Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai Ali, awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu. Aku hanya ingin menggodamu. Sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah.”
Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya, ”Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau malah kau bilang sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah? Tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”
Fatimah lalu memeluk mesra lagi, lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja, “Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu. Aku memendamnya bertahun-tahun. Sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya. Tapi aku terlalu takut. Aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini. Aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila kubertemu dengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku. Ia memang sudah menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku? Pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya.”
Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali, ”Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku. Aku sedang memeluk mesra pemuda itu. Tapi dia hanya diam saja. Padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya. Aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar. Ia juga sangat mencintaiku.”
Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu?”
Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku.”
Berubahlah mimik wajah Ali menjadi sangat bahagia dan membalas pelukan Fatimah dengan dekapan yang lebih mesra. Mereka masih agak malu-malu. Saling bertatapan lalu tersenyum dan tertawa cekikikan karena tak habis pikir dengan ulah masing-masing. Mereka bercerita tentang kenangan-kenangan masa lalu dan berbagai hal. Malam itu pun mereka habiskan bersama dengan indah dalam dekapan Mahabbah-Nya yang suci. Subhanallah.
Ali dan Fatimah pun menjalani rumah tangga mereka dengan suka maupun duka. Buah cinta dari pernikahan Ali dan Fatimah adalah putra tampan bernama Hasan dan Husain. Mereka berdua adalah anak yang sangat disayangi orangtuanya dan disayangi Rasul, kakek mereka. Juga disayangi keluarga Rasul yang lain tentunya. Mereka berdua nantinya juga menjadi tokoh dan pejuang Islam yang luar biasa.
Selama berumah tangga, Ali sangat setia dengan Fatimah, ia tak memadu Fatimah. Cintanya Ali memang untuk Fatimah, begitupun cinta Fatimah memang untuk Ali, mereka juga bersama-sama hidup mulia memperjuangkan Islam. Hingga hari itu pun tiba, semua yang hidup pasti akan kembali ke sisi-Nya. Ali, Hasan dan Husin dilanda kesedihan. Fatimah terlebih dahulu wafat, meninggalkan suami, anak-anak dan orang-orang yang mencintai dan dicintainya.
Itulah kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad. Subhanallah. Allah memang Mahaadil. Rencana dan skenario-Nya sangat indah. Ada beberapa hikmah dari kisah cinta mereka. Ketika Ali merasa belum siap untuk melangkah lebih jauh dengan Fatimah, maka Ali mencintai Fatimah dengan diam.  Karena diam adalah satu bukti cinta pada seseorang. Diam memuliakan kesucian diri dan hati sendiri dan orang yang dicintai. Sebab jika suatu cinta diungkapkan namun belum siap untuk mengikatnya dengan ikatan yang suci, bisa saja dalam interaksinya akan tergoda lalu terjerumus kedalam maksiat. Naudzubillah. Biarlah cinta dalam diam menjadi hal indah yang bersemayam di sudut hati dan menjadi rahasia antara hati sendiri dan Allah Sang Maha Penguasa Hati. Yakinlah Allah Mahatahu para hamba yang menjaga hatinya. Allah juga telah mempersiapkan imbalan bagi para penjaga hati. Imbalan itu tak lain adalah hati yang terjaga.
Semoga kisah ini bermanfaat bagi para insan yang merindukan cinta suci karena-Nya, yang sedang berikhtiar sekuat hatinya, dan yang saat ini menanti dengan sabar demi menyambut jalan cinta yang diridhai-Nya. Mohon maaf apabila ada esensi kisah yang kurang pas dengan aslinya. Mohon diluruskan jika ada redaksi kisah yang salah dari saya. Sesungguhnya kebenaran berasal dari Allah dan segala khilaf maupun salah berasal dari manusia seperti saya. Wallahu’alam bishshawwab.

Senin, 24 Februari 2014

Monolog dengan Semua Romansanya


Pikiranku meneobos jauh kesana, ya.. ketempat itu.. aku sangat merindukan tempat saat aku melihat banyak cahaya kecil dibalik hitamnya kabut senja.. aku sangat merindukan kunang-kunang peradaban yang dihadirkan sang Khalik ketika menata keindahan malamNya.. Meskipun aku sangat menikmati pelayaranku menuju samudra impianku, namun perjalananku tampak runyam tanpa kalian.. ya, kalian..

Entah apa yang membuat pikiran ini selalu bergejolak ketika memikirkan kalian malaikat kecilku, diri ini selalu bermonolog dg semua romansanya..

Sebelum tanganku berubah menjadi angin
menyapu seluruh senja, merenungi keusaian dari titik kabut,
tinggalkan lembah sajak pada kata-kata
hingga tandas seluruh makna tertelan arwah bulan.

Sebelum tanganku menjelma angin,
bangun bayang-bayang di matamu
seperti kastil yang roboh seribu tahun lalu di otakku,
menggulung mimpi-mimpi tanpa malam,
menepis cahaya berlumur abjad dan lafal doa,
saat tubuhku menjadi lebih ringan dari embun.

Kutukan malam mengantarku pada sunyi.
Gemeretak tulang-tulang bukit terdengar nyaring
menyerupai lolongan bidadari saat terbang bersama pelangi.
Kudirikan istana pasir di pantai selatan
untuk tidurmu bersama ombak.
Meski sedikit gemetar terdesak karang laut,
tapi kilaunya terus mengalir menuju pelir.

Sebelum tanganku berubah jadi angin,
angkatlah tinggi-tinggi gaunmu,
biarkan benangnya kusut seperti rambut malaikat di surga.
Suatu saat pantaiku akan menjemput keusaian
seperti istana pasir yang pernah kubangun
dan menggemakan lonceng di ujung menaranya
ketika istana kecilku
mulai tak berpenghuni,
Hanya debu yang terhempas
bersama sisa-sisa sang malam..

-SN-

Minggu, 16 Februari 2014

Al Furqon Aura Kehidupan


 -30 Juli 2012- 
Surgaku adalah lembah penuh bukit
Berkelok seperti pikiranku yang terjal ditelan bulan
Lentera kecil tak mampu membawaku kesana,
Sampai aku lelah menghitung jejak tanah penuh tapak
Sang Khalik memanggil penuh arti,
Seakan menorehkan senyum kerang di ujung samudera,
Terentang ganggang pantai menuju muara
Menarikan pujian tanpa suara
Dzikir ombak bergelegak di dasar bayanganku
Tahajjud jalan kuyup bersikelok membawaku dalam naungan sang bidadari
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang-benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al-Ma’idah : 15-16)
Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil).... (Al-Baqarah: 185)
Al-Quran merupakan kitab yang syamil dan mutakkamil. Al-Quran sebagai penyejuk hati, yang menggugah hati, namun eksistensinya banyak dari setiap insan yang kurang menyadari esensi dari kalam Allah. Bukan karena manusia yang minim akan perkataan indah Allah namun karena kebutuhan akan pembelajaran hati untuk menyentuhnya terkendali oleh diri dan jiwa insan. Tak dipungkuri juga banyak insan setiap hari membaca Al-Quran namun tak memahami arti dan mengaplikasikan isi dari Al-Quran. Padahal banyak sekali keutamaan dari Al-Quran. Sehingga sampai detik waktu, sang muslim akan dipenuhi berbagai tanda tanya mengapa ia berada dalam suatu kehidupan.
Nampaknya perlu diistimewakan kalimat “Makanan terbaik bagi hati adalah keimanan, obat terbaiknya adalah Al-Qur’an”. Pemahaman ini akan merujuk pada nikmatnya menggali ilmu al-Qur’an. Al-Furqon merupakan obat hati yang paling manjur ketika sang insan mendapati sebuah cobaan kegelisahan, kebimbangan, keresahan maupun penurunan kualitas keimanan lain. Sungguh, Al-Quran merupakan penyempurna kekuatan hati. Bila kekuatan Al-Quran tak mampu menggoyahkan hati kita, maka bisa jadi jiwa dan nurani kita kurang menghayati keimanan kita. Alunan Al-Furqon yang menyejukkan, menenangkan, dan menggelorakan. Itulah mungkin suatu penjabaran dari definisi sebuah kehidupan. Hidup adalah simfoni yang kita mainkan dengan indah. Al-Quran merupakan nafas jiwa dan ruh yang menggelora dalam hati. Ia merupakan jendela cinta dan sarana komunikasi kita pada Sang Khalik. Perlu sebuah keserasian dan harmoni untuk menyatukan kehidupan dengan cinta-Nya. Sehingga rangkaian batin, nurani, dan jiwa serempak menghasilkan ketergantungan produktif pada kalam Allah bak daun yang menggantungkan dirinya pada sang air dan sang matahari untuk berfotosintesis.
Al- Furqon membingkai romantika perjuangan dalam setiap aktivitas nadi dan jiwa kita. Tanpanya seluruh nilai pikiran dan perasaan akan hilang dilanda sebuah kerinduan akan alunan panjinya. Cahayanya memvisualisasi sebuah kekuatan kesatuan, keagungan, keluhuran dan ketinggian yang melahirkan taman kehidupan yang indah. Gelora magnetiknya selalu mengingatkan kita akan pesona keindahan rangkaian kalimatnya. Jiwa akan tergerak untuk menikmati kaidah keagungannya. Bukan hanya sebuah icon, namun merupakan penggugah jiwa prajurit yang dibariskan hingga saling melembut dan menyatu. Al-Quran adalah sebuah kebutuhan eksistensial yang sangat mengagumkan dan mengikat insan manusia.
Al-Quran merupakan aura kehidupan, dimana setiap insan yang membaca akan merasakan hamparan keindahan al-quran, merasakan denyut nadi kehidupan, merasakan alasan merakit pemaknaan tiada batas terhadap kehidupan. Ia membuat insan yang mendendangkan merasa hidup. Sebab ia menebar benih kehidupan di ladang hati kita. Aura kehidupan. Tepat, aura kehidupan. Kehidupan itu nyata pada setiap hembusan nafas kita, pada setiap detak jantung kita, pada setiap jengkal tubuh kita, pada setiap langkah kaki kita, pada setiap uluran tangan kita, pada setiap kedip mata kita, pada setiap kata dan suara kita. Benar, aura kehidupan. Sebab ia mengomplekskan tiga pesona utama para perindu surga: pesona raga, pesona jiwa, dan pesona ruh.

Ketiga pesona tersebut terbingkai rapih pada sebuah “akal besar“ yang menerangi kehidupan rabbaniyah. Maka mendekatlah pada-Nya, niscaya engkau kan merasakan betapa air kehidupan serasa mengalir pada setiap sudut jiwa dan ragamu. Pahamilah kata – kata-Nya, maka engkau kan merasakan betapa engkau layak dan pantas mendapat kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang lebih baik. Dan jika Allah mengizinkan jiwa kita merasakan sentuhan keindahan-Nya, niscaya kita kan merasakan betapa air kehidupan mendidih dalam tubuh kita. Dan jika Allah memperkenankan kita hidup lama, niscaya kita kan merasakan betapa perlindungan-Nya membuat kita terengkuh dalam rasa damai, aman, dan nyaman. Namun masihkah kita diberi kesempatan oleh-Nya untuk berdiri kokoh di dunia lebih lama? Masihkah kita menunggu dan mengharapkan kesempatan kedua dari-Nya?

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.(Faathir:29)
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Al-Qasash : 77). ALLAHU AKBAR !!! - SN-
 

Dari Gerakan ke Negara

 Tugas DM2 (Dauroh Marhalah 2)
30 Agustus 2012
Hijrah dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW adalah sebuah metamorfosis dari “gerakan” menjadi negara. Rasulullah melakukan penetrasi sosial yang sangat sistematis, dimana Islam menjadi jalan hidup individu, dimana Islam “memanusia” dan kemudian “memasyarakat”. Sekarang melalui hijrah, masyarakat bergerak linear menuju negara. Melalui hijrah, gerakan itu “menegara”.
            Perubahan sosial mempunyai landasan pada sifat natural  manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat. Model perubahan selalu gradual dan bertahap, prosesnya cenderung evolusioner tapi dampaknya lebih cenderung bersifat revolusioner. Inilah makna firman Allah SWT. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d:11).
            Dalam konsep politik islam, syariat yang disebut sistem atau hukum merupakan suatu given. Negara merupakan institusi yang diperlukan untuk menerapkan sistem. Sehingga dalam penjelasan ini akan menerangkan perbedaan mendasar dengan negara sekuler, dimana sistem/ hukum mereka adalah hasil dari produk kesepakatan bersama karena hal tersebut sebelumnya dianggap tidak ada.
            Negara merupakan sebuah peradaban, dimana institusi negara dalam konsep islam ialah sarana untuk menegakkan sebuah peradaban. Negara bukanlah sebuah akhir, justru merupakan awal dari sebuah peradaban. Manusia adalah subyek, negara adalah institusi, dan peradaban adalah karyanya. Nasionalisme yang menjadi ruh dari konsep negara-bangsa mulai memudar dan nasionalisme religius muncul sebagai alternatif baru di negara-negara islam. Permasalahan negara bukan merujuk pada bentuk, tapi pada konsep kekuasaan, dan misi yang akan diemban yang bisa merujuk pada ideologi atau kepentingan.
            Manusia untuk sebuah cita-cita, manusia muslim harus direkonstruksi ulang dalam tiga tahapan dimana yang pertama memperbaharui afiliasinya kepada islam kembali, memperbaharui keislaman dengan memperbaiki pemahamannya pada islam, dan partisipasi paling optimal dalam memberikan kontribusi kepada islam.
            Proyek sekularisasi gagal di dunia islam, dapat dijelaskan dalam dua perspektif yaitu akidah dan rasio. Secara akidah, kegagalan hanyalah pembuktian empiris dari janji Allah SWT. Penjelasan rasionalnya yaitu kekuatan sekuler tidak bersumber dari dunia islam tapi dari Barat atau dari Timur, rezim-rezim diktator telah menciptakan penderitaan rakyat yang panjang, kegagalan membangun telah menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap janji-janji modernisasi, gerakan tidak pernah sanggup membawa konsep-konsep pemikiran yang original, komprehensif, berlandaskan metodologi yang kokoh, dan output empiris yang sukses. Itulah, disamping karena secara substansial memang kosong, secara struktural gerakan ini sangat rapuh.
            Pemimpin sesuai era dakwahnya, nampaknya memang ada kesulitan bagi sebagian besar pemimpin Islam saat mempersepsi perjalanan dua entitas secara berbeda yaitu entitas negara dan gerakan islam. Dalam periode dakwah saat ini, dibutuhkan seorang pemimpin yang kuat dan memiliki kemampuan kepemimpinan yang mumpuni untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Selain itu, pemimpin juga tentu seorang demokrat yang memberi ruang gerak yang luas dan nyaman bagi umat islam yang tumbuh dan berkembang sekaligus memiliki empati terhadap harakah dan memberikan ruang partisipasi yang besar dalam proses pengelolaan negara. Harakah harus memainkan peran sebagai pelopor koalisi besar kekuatan Islam dan reformis, sekaligus sebagai match-maker (penyelaras) dalam koalisi.
            Hasan Al-Banna, memang tidak sempat menyelesaikan seluruh agenda kebangkitannya. Namun ia telah memulainya dengan benar sesuai tahapannya. Sebagian organisasi islam mati bersama matinya pemimpinnya. Tapi tidak bagi ikhwan. Walaupun Al-Banna merupakan legenda, sebuah organisasi harus tetap dikelola dengan sistem. Ia telah merancang sistem hingga sistem ini bekerja bahkan setelah ia syahid.
            Penjelasan Dari Gerakan ke Negara merupakan penjelasan yang sangat komprehensif, dimana menjelaskan dari tahapan penegakan negara oleh rasulullah, hingga kebangkitan dakwah rasulullah zaman Hasan Al-Banna dan masa reformasi indonesia serta wacana-wacana politik barat dan manajemen transisi dalam menata ulang taman Indonesia. Dari Gerakan ke Negara dalam penyampaiannya terlalu fluktuatif sehingga kata-kata agak sulit dipahami. Manusia adalah subjek, negara adalah institusi, dan peradaban adalah karyanya. Manusia, peradaban, dan model negara seperti apakah yang mampu mewujudkan cita-cita mulia bagi rahmatan lil ‘alamin? Anda sedang mempersiapkan diri menjadi model manusia sebagai subjek bagi terlahirnya sebuah negara dan peradaban yang penuh kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan. Kader dakwah yang mempersiapkan diri membangun negara dari sebuah gerakan. –SN-

Sabtu, 11 Mei 2013

CERITA SEBUAH KATA


SEBUAH KISAH NYATA YANG MENGHARUKAN


***


Oleh: Akhyar Hadi, Mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan 1433 H


Juara I Kategori: Lomba Karya Tulis Bebas Pekilo UIM


Lelaki itu seperti lelaki tua biasa. Biasanya lelaki tua sepertinya ditemui di lambung Masjid Nabawi, sebagai jamaah umroh akibat terlalu lama menunggu giliran haji. Atau lelaki tua sepertinya ada di sawah, kelelahan mencangkul walau matahari baru naik setengah. Bisa juga lelaki sepertinya kita temui sedang duduk-duduk di teras sambil menghias pot bunga, membersihkan rumput, dan menanam pohon kecil di pekarangan. Atau, kalau kita menyaksikan berita banjir di TVRI, lelaki seperti ini biasanya diwawancarai karena terlambat mendapat jatah bantuan mie instan. Dia jenis lelaki yang mudah didapati. Lelaki tua yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.


Diusianya yang sudah memasuki kepala enam, wajar jika seluruh rambut di kepalanya memutih. Tiap-tiap helai itu adalah gambaran masalah yang dilaluinya, guratan-guratan kerut di wajahnya adalah lambang goresan waktu yang jemawa. Tangan kanan dan kirinya tak lagi sekuat dulu. Bahunya yang dulu kekar, kini mulai kurus dan membungkuk. Ototnya lemah. Kadang dia beristighfar sambil menarik napas panjang ketika lelah. Tapi kawan, matanya istimewa. Di situlah pusat gravitasi pesona dirinya. Matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. Seseorang yang biasa kucium tangannya. Ayah, kupanggil ia.


...


Ayahku adalah ayah pada umumnya. Ayah yang ketika aku kecil, menyediakan tempat duduk istimewa untukku saat karnaval kota malam Idul Fitri. Dia mendudukkanku di bahunya, digenggamnya erat kakiku agar nyaman saat duduk. Tak ia pedulikan karnaval itu. Karena tawaku adalah karnaval baginya. Bahagiaku adalah iringan semangat hidupnya.


Aku juga masih kecil saat itu. Ayah hanya seorang supir truk batubara di pedalaman Kalimantan. Bekerja selepas Isya lalu pulang sehabis Shubuh. Ayah adalah lelaki pendiam, tak banyak bicara. Tak suka memukul. Tak pandai ia marah. Walau begitu, ayah adalah tolak ukur tindakan bagiku, contoh hidup tingkah laku. Tak pernah ia cerewet menyuruhku salat. Ia hanya mengerjakan, lalu mengajakku bersamanya. Sesederhana itu, Kawan. Ia juga sangat ingin aku sering-sering membaca Al-Quran, walau tak pernah ia menyuruh. Walau tak pernah ia mencontohkan cara membaca Al-Quran. Kau tahu kenapa, Kawan? Karena kutahu, ia pun terbata membacanya.


Biasanya aku menghabiskan waktu bersama ayahku tiap akhir pekan. Aku senang berada di bak truk besarnya. Beliau duduk bersamaku sambil bercerita. Tentang para pahlawan, tentang panorama-panorama, bintang dan planet-planetnya, tentang semesta, juga tentang kota-kota yang pernah disinggahinya. Dia senang bercerita tentang banyak kota, dan aku tahu kota impiannya adalah Mekkah dan Madinah. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan kota itu melebihi kota manapun di dunia. Walau dia tak mengatakannya langsung, tapi aku tahu dengan sendirinya, seolah ada bahasa lain selain bahasa lisan, bahasa yang dijalin antara seorang anak dan ayahnya dari hati ke hati.


“Ayah ingin sekali pergi haji.”


Begitu kiranya jika kata itu diucapkan.


...


Aku masih muda, sedang ayah menua. Semenjak krisis ekonomi, harga batubara anjlok. Ayah dengan setumpuk masalah keuangan yang menimpanya bangkrut. Truk besar tua kami mogok. Rusak. Sekarat. Seolah bosan terlalu lama memikul bongkahan-bongkahan batu hitam langka. Tak bisa lagi diperbaiki karena tak ada biaya. Ayah tak bisa lagi bekerja. Ayah menganggur bertahun-tahun lamanya.


Ayah pun sekarang menikmati masa tuanya dengan belajar banyak dari agama. Sering pergi ke kajian-kajian ilmiah. Rajin ia membaca. Berlama-lama dengan kumpulan buku dan majalahnya. Jiwa tua itu masih sangat antusias. Sesuatu yang tak ia dapat selagi muda. Matanya, iya matanya, selalu membulat ketika menjelaskan kalau bid’ah itu semuanya sesat. Walau kata-katanya sedikit, aku dibuatnya percaya kalau semua kesesatan itu tempatnya di neraka. Dia juga orang paling mengamati tiap senti celana. Dijaganya agar aku tak menjulurkan pakaian melebihi batasnya. Ayah sangat senang pergi ke masjid. Tak pernah absen ia ke sana. Tubuh tuanya itu mendadak kuat jika berjalan sebelum waktu Shubuh yang dingin, dan jika ia pergi ke masjid sebelum Maghrib, maka ia akan datang ke rumah setelah Isya. Dengan kaki-kaki tuanya. Hampir satu kilometer jauhnya.


Setelah lulus sekolah menengah atas di sebuah kota di Banjarmasin, aku merantau belajar menjadi mekanik handphone dan komputer di tempat pamanku, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah setahun di sana dan merasa punya skill, aku kembali ke Banjarmasin dengan tujuan bisa kuliah sambil membuka sebuah toko service handphone dan komputer. Aku mulai membeli alat-alat service, juga iklan di sana-sini. Mendadak, aku terkenal dengan julukan tukang handphone. Aku menjalankan bisnis ini pelan-pelan, dari pintu ke pintu. Mulai dari keluarga sampai orang-orang di sekitarku. Pelangganku pun bermacam-macam, Kawan. Dari tukang kambing, pedagang asongan, pengangguran, ustadz, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa. Kau tahu, Kawan, kenapa mereka senang aku memperbaiki telepon tangan mereka? Jawabannya adalah karena mereka bisa menentukan garansi semau mereka.


Namun hari itu, Kawan, hari itu adalah hari aku bersama ayah pergi ke sebuah majelis taklim, di mana setelah memberikan tausiyah, seorang ustadz menawarkan beasiswa bagi lulusan SMA yang ingin menghafal Al-Quran di Bogor. Ayah menunduk. Didengarnya iklan itu dengan seksama. Aku melihat matanya.


“Ayo kita pulang, Yar.”


Mata teduhnya tak bisa mengecohku. Sembilan belas tahun menjadi anaknya tentu aku mengerti maksudnya.


Ia ingin Aku lebih baik darinya. Bisa membaca Al-Quran dengan sempurna. Tak seperti dirinya yang terbata. Namun tak bisa ia meminta. Ia masih tak banyak bicara.


“Saya mendaftar beasiswa itu, Yah. Kalau diterima Saya langsung berangkat ke Bogor.”


Kulihat matanya membulat. Wajahnya berseri seketika.Walau tanpa kata, namun ada senyum di sana. Bagiku, melihatnya tersenyum adalah sebuah harta.


...


Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu. Walau aku tahu, aku sebenarnya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik, setidaknya aku akan berusaha. Setidaknya aku akan belajar untuk membuatnya bangga. Aku ingin mengajarinya, membaca Al-Quran bersamanya. Walau aku sadar, Aku hanya seorang tukang service handphone. Tapi Kawan, bukankah Syaikh Albani yang nama beliau sering kujumpai di buku dan majalah ayahku juga pernah menjadi seorang mekanik jam?


Hari itu aku meninggalkannya merantau lagi ke pulau Jawa. Setelah mencium tangannya, aku memeluknya. Hangat sekali peluknya, seperti selimut bagi seorang gelandangan kota Malang yang kedinginan. Jam dua malam.


“Hati-hati, Yar.”


Ia masih tak banyak berkata. Namun pelukannya itu bermakna. Nasihatnya mengandung harapan besar. Harapan agar anaknya bernasib lebih baik darinya. Dan begitulah seorang ayah seharusnya.


...


Aku merantau, menuju pulau Jawa. Tak muluk aku ingin jadi orang yang hafal Al-Quran, bagiku bisa membaca Al-Quran dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Mungkin bisa menjadi imam di kampung saat tarawih dengan ayahku menjadi makmum saja, aku sudah sangat bahagia. Karena aku telah berjanji membuatnya bangga. Tapi karena Allah, tetap menjadi niat yang utama.


...


Musim-musim berganti, setiap tahun aku pulang sekali. Mengunjungi ayah yang kurindui setiap hari. Ayahku adalah anak keenam dari empat belas bersaudara. Semuanya kaya raya kecuali dia, semua sudah naik haji kecuali dia.


Kini, setelah ia tak lagi memiliki perkerjaan, harapannya untuk naik haji hilang pelan-pelan. Namun bukan ayah namanya jika kehilangan semangatnya, dengan sedikit uangnya ia ikut mencicil TV kabel berlangganan, yang mana dibayar urunan beberapa keluarga dalam satu perumahan. Dengan TV tabung tahun 1998, dicarinya channel Mekkah dan Madinah. Di saat ia tidak berada di masjid, maka acara dua stasiun TV Arab Saudi itulah teman kesukaannya. Ia senang memonton sambil bersandar pada sebuah kursi. Jika ia bosan dengan siaran di Mekkah, maka digantinya ke siaran stasiun Madinah, jika bosan lagi, maka akan kembali ke stasiun semula. Terus berpindah seperti itu. Layaknya metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tak singgah ke terminal lain. Jika si tukang kameramen mengambil gambar Masjid Nabawi, lalu menyorot karpet hijau antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka bibirnya bergerak, seolah ia sedang meminta, berharap agar doanya diterima. Lain lagi jika sang kameramen menyorot ka’bah, maka ayah bangun dari sandarannya, dipasangnya kacamatanya agar tak samar pandangannya, seolah ia membayangkan dirinya berada di sana lalu mengitari rumah tua itu dengan bahagianya. Dipandangnya ka’bah dan beberapa bagian Masjidil Harom dengan haru, lalu diliriknya wajahku, seolah berkata,


“Kau lihat, Yar.. itu prosesi umroh. Lihat Yar! Lihat Baitullah, itu kiblat kita. Tahukah engkau, Anakku, Ayah sangat ingin ke sana. Ayah ingin mencium hajar aswad, Ayah ingin berlari-lari kecil seperti orang di Shafa dan Marwa itu, Yar.. Lihat! ”


Aku kelu. Pria pendiam ini juga menyimpan cita-citanya dalam diam.


Yang membuat pilu di hatiku semakin ngilu adalah ketika melihatnya di masjid bergaul dengan teman-teman seumurannya yang semuanya juga sudah pernah menunaikan ibadah haji. Adalah adat di kampung kami bahwa sebuah pemuliaan panggil memanggil dengan sebutan “haji”. Teman-temannya kadang memanggil ayah dengan sebutan haji hanya untuk memuliakan ayah yang umurnya terlihat lebih tua dari mereka. Aku mafhum, ayah kelu di hatinya. Ingin ia seperti teman-temannya. Panggilan itu hanya fatamorgana untuknya. Seperti melihat air di aspal nun jauh, semu, tak ada apa-apa.


Pernah suatu hari ayah menolong seseorang di jalan. Orang itu berterima kasih sembari mendoakan,


“Terimakasih, Pak. Semoga Bapak cepat naik haji,” lirihnya.


Hari itu aku melihat ayahku tersenyum. Senyum itu, Kawan, senyum itu begitu dalam maknanya, untukku dan untuknya. Untuknya karena doa itu masuk ke hatinya lalu ia berharap agar di-ijabah Tuhan pemilik timur dan barat. Untukku, karena aku ingin sekali melihat ayahku tersenyum lagi, seperti hari ini, aku ingin sekali ayah pergi ke rumah Allah. Tuhan pemilik arah kiblat.


...


Di tengah perantauanku di Pulau Jawa. Setelah berganti-ganti pondok tahfizh beberapa kali, aku bermukim di Jogja. Hari itu, aku menelpon ayah, mengabari bahwa ada tes penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Pria tua itu terperanjat. Lalu membanjiriku dengan kata. Bercerita ia, tiap detail katanya adalah semangat dan intonasinya berupa letupan-letupan motivasi. Ia laksana merapi yang menumpahkan seluruh larva. Mencurahkan apa yang ia rasa. Ia berjanji akan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bisa ikut tes perguruan tinggi yang ia katakan sebagai universitas Islam terbaik di dunia. Aku pun terperanjat. Ganjil sekali, seolah itu bukan ayahku yang pendiam.


Dan yang paling membuatku haru adalah ketika ia berkata, “Jangan pikirkan masalah uang, Nak, jangan pikirkan. Ayah yang akan mencarikan. Insya Allah.”


Terisak ia.


Kau tahu, Kawan, ayahku sekarang hanya supir ambulan sebuah masjid, itu pun terkadang. Tak setiap hari ia dapat uang. Ia berjanji akan menyisipkan namaku dalam setiap doanya, di sepertiga malamnya. Setiap harinya.


...


Hari itu dua puluh dua tahun usiaku. Berada di pedalaman Jawa selepas salat Shubuh. Aku bersama dua orang temanku, Isnan dan Mukhroji. Kami baru saja mengikuti tes masuk Universitas Islam Madinah di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Kami memutuskan pulang setelah Shubuh. Nahas, pedalaman Ponorogo itu bukanlah Bogor yang angkot bisa lewat 24 jam. Kami menunggu sampai matahari meninggi. Berharap ada tumpangan transportasi.


Mukhroji cemas, ia harus secepatnya sampai ke Tegal karena ada suatu urusan keluarga. Berkali-kali pemuda tinggi ini menoleh ke sana-kemari berharap angkutan pedesaan segera datang. Sebentar duduk, ia bangkit berdiri, lalu menoleh lagi. Kawanku ini mungkin mendapat musykil yang berat dalam keluarganya. Lain lagi si Isnan, pemuda ramah asal Klaten ini ingin cepat pulang karena hampir setiap hari di sini ia memakan pecel khas Jawa Timur. Yang mana efek sampingnya adalah bosan, tak selera makan, dan sedikit mengganggu pencernaan. Pemuda terakhir, yaitu Aku, dengan alasan yang sama dengan Isnan. Karena kami membeli makanan secara patungan. Di pagi itu, kami menunggu dengan kumpulan rasa bosan.


Namun di ujung jalan, sayup-sayup bayangan kecil muncul, membesar dan kian dekat dengan tiga orang malang tadi. Bayangan itu menjadi nyata berupa sebuah mobil besar, gagah, dan nyaring bunyinya. Sebuah truk. Namun wajah dua temanku datar. Berbeda denganku yang sumringah tiap melihat sebuah truk. Kulambaikan tangan, girang aku. Berteriak-teriak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ayunan di sebuah taman bermain.


Truk itu berhenti. Aku membuka pintu. Seorang pria di sana. Tak terlalu muda. Kutaksir empat puluhan umurnya. Pandangan matanya, seolah sudah tahu sebelumnya bahwa tiga orang di pinggir jalan itu hanya akan merepotkannya. Wajahnya sangar. Mimiknya kasar. Otot-otot badannya besar. Ia mirip tukang pukul seorang pejabat yang baru saja dilantik menjadi bupati.


Namun semua itu mencair ketika aku menatap matanya. Seolah ia melihat sesuatu di wajahku. Wajah yang seolah bicara. Berbicara bahwa ayahku adalah supir truk seperti dirinya. Dia pun seolah mengerti apa yang kubahasakan lewat wajah. Mungkin ada bahasa yang kurasa hanya aku dan para supir-supir truk saja yang memahaminya. Atau mungkin juga karena wajahku memelas dengan sempurna.


“Naiklah!” Ia langsung ramah. Entah kemana si tukang pukul bupati ini menaruh mimik seram yang diperagakannya sebelumnya.


Isnan dan Mukhroji naik dan duduk disamping sang supir. Hanya bisa untuk dua orang tempat duduknya. Aku? Ah, Kawan, aku mencari tempat favoritku. Menaiki bak truk itu. Bak itu hanya persegi panjang dari besi dengan sisa-sisa pasir berhamburan, melayang dan berputar terbawa angin. Aku duduk di sana. Hening. Bergoyang-goyang di jalan pedesaan yang bergelombang. Aku melamun. Di sana seolah ada lorong waktu yang membawaku jauh. Jauh ke masa lalu. Ke masa kecilku. Bersama ayahku di sebuah bak truk. Aku melihat ia bercerita. Aku mendengar intonasi khasnya. Aku mendengar suara kecilku tertawa. Aku merasa tubuh kecilku digendongnya. Wajah mudanya masih kuingat dalam pikiranku. Sesekali ia bercerita sambil mengusap rambut ikalku. Aku terbuai fantasi. Indah sekali.


Lorong waktu itu lalu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku sendiri di sini merindukannya. Dalam sebuah bak truk dengan sisa-sisa pasir di dalamnya. Mataku sakit diserang butiran-butiran pasir yang melayang dalam pusaran angin di bak. Tapi bukan itu alasanku untuk meneteskan air mata. Air itu jatuh karena aku rindu pada ayah. Rindu tak terkira.


...


Beberapa musim berganti dengan cepatnya. Banyak hal-hal yang tak pernah kita kira dan kita duga. Sebuah doa melesat ke langit dan dijawab oleh Tuhan Pemilik Semesta. Aku akhirnya diterima. Aku dapat beasiswa ke Madinah. Lagi-lagi aku merantau jauh meninggalkan seorang lelaki tua. Sebelum pergi aku memeluknya. Ia kembali menjadi dirinya yang tak banyak berkata. Tapi aku tahu, pelukan itu sudah mengatakan semuanya. Bahwa ia bangga. Ia bangga anaknya bisa ke kota impiannya. Kota yang sering ia ceritakan. Bahwa ia pun rela jika seandainya tak pernah bisa ke Madinah, asal anaknya bisa. Anaknya bisa lebih baik darinya. Bisa berangkat haji. Bisa salat dengan ganjaran ribuan kali. Lalu kudengar kata keluar dari mulutnya, pujian untuk Ilahi Robbi.





...


Hari ini, di mana aku berdiri, di kota yang mulia ini, adalah giliranku yang berusaha berbuat untuknya. Aku masuk dalam program persiapan bahasa, dua tahun lamanya, sebelum bisa kuliah di salah satu jurusan yang tersedia. Berada di sini adalah level terendah seorang mahasiswa. Aku di sini adalah gabungan antara kejahilan bahasa dan keberuntungan bisa berada di sini semakin lama.


Kau tahu, Kawan, Kau bisa saja merendahkanku karena hinanya aku di mata kalian, kita berbeda, Kawan. Aku masih memiliki ayah yang harus kubahagiakan. Tiap uang yang kuterima kusisihkan, tiap lantunan doa kuselipkan. Aku ingin pergi haji bersama ayahku. Aku ingin mengitari ka’bah bersamanya. Menuntunnya. Berlari kecil di sampingnya antara Shafa dan Marwa. Aku ingin membimbingnya. Aku ingin suatu hari ia melihatku berada di kampus kita, yang ia sangka terbaik di dunia. Aku ingin ia tahu kalau aku sudah bisa membaca Al-Quran di Masjid Nabawi. Aku ingin memanjatkan doa bersamanya di Raudhoh. Ingin kuceritakan ia tentang seluk beluk kota ini, kota impiannya. Seperti ia menceritakan padaku ketika aku kecil.


Kapankah itu? Entahlah, Kawan. Entahlah kapan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi. Tersenyum saat pergi haji.




Ayahku adalah lelaki tua seperti biasanya. Lelaki sepertinya bisa kita jumpai di mana saja. Tapi bagiku, ayah adalah lelaki istimewa. Aku bertahan di sini menunggunya. Menunggu keajaiban Tuhan untuknya. Akan tibakah saatnya?


...


Ini adalah cerita sederhana sebuah kata. Kata yang kita semua memilikinya. Entah kita masih memilikinya, atau telah tiada.


‘Ayah.’


Nb: Cerita diangkat dari kisah nyata seorang mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan tahun 1433-1434 H. Tulisan ini berhasil memenangkan Lomba Karya Tulis Bebas dan terpilih sebagai Juara Satu dalam acara tahunan Pekilo (Pekan Kegiatan Ilmiah dan Olahraga) UIM 1434 H.



via SALAFIYUNPAD via http://www.serambimadinah.net/index.php?option=com_content&view=article&id=122%3Acerita-sebuah-kata&catid=64%3Asastra&Itemid=77