Sabtu, 20 September 2014
Rabu, 07 Mei 2014
Cinta Sepasang Insan Mulia, Ali dan Fatimah
Ali adalah anak dari paman Nabi Muhammad Rasulullah Saw, yaitu Abi
Thalib. Sebut saja, Ali adalah sepupu Rasul. Abi Thalib sangat sayang
kepada Rasul. Sepeninggal orang tua Rasul, Abi Thaliblah yang merawat
Rasul bahkan selalu membela Rasul dalam memperjuangkan dakwah Islam
walaupun pada ajalnya Abi Thalib wafat bukan sebagai muslim. Rasul
sangat sedih mengenai hal itu.
Ali sejak kecil tinggal bersama
Rasul, kalau tidak salah semenjak umur Ali tujuh tahun. Ali merupakan
satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan ia adalah yang paling
muda di antara yang lain. Ia termasuk tokoh Islam atau sahabat Rasul
yang sangat berpengaruh dan berjasa. Ali adalah pemuda yang gagah,
tampan, kuat dan cerdas. Bahkan Rasul pernah berkata jikalau Rasul
adalah sebuah gudang ilmu maka Alilah gerbang untuk memasuki gudang
tersebut.
Setelah sepeninggal Rasul, Islam dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin, Ali menjadi Khulafaur Rasyidin setelah Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan.
Sedangkan
Fatimah az-Zahra adalah putri kesayangan Rasul dari pernikahan beliau
dengan Siti Khadijah binti Khuwailid. Khadijah adalah istri pertama
Rasul. Seorang saudagar kaya yang cantik dan berakhlak mulia. Menurut
berbagai riwayat, Khadijah adalah orang yang paling pertama masuk Islam.
Khadijah sangat setia dan rela berkorban apapun demi Rasul dan Islam.
Rasul pun sangat sayang kepada Khadijah. Selama Rasul menjadi suami
Khadijah, Rasul tidak memadu Khadijah dengan perempuan lain. Ketika
Khadijah meninggal, Rasul sangat sedih, begitu pula dengan Fatimah.
Fatimah
adalah perempuan yang tegar, cantik, baik dan lembut. Sebagai anak yang
berbakti pada ayahnya, Fatimahlah yang mengurus Rasul sejak Khadijah
meninggal sampai Rasul menikah lagi.
Sampai suatu ketika, saat Rasul menjelang wafat, Fatimahlah orang yang sangat sedih jika Rasul meninggalkannya tapi Fatimah juga adalah yang paling bahagia karena kata Rasul setelah sepeninggal Rasul, Fatimahlah yang pertama kali akan menyusul Rasul ke surga.
Sampai suatu ketika, saat Rasul menjelang wafat, Fatimahlah orang yang sangat sedih jika Rasul meninggalkannya tapi Fatimah juga adalah yang paling bahagia karena kata Rasul setelah sepeninggal Rasul, Fatimahlah yang pertama kali akan menyusul Rasul ke surga.
Sejak Ali ikut tinggal bersama Rasul dan
keluarganya, otomatis Ali tinggal bersama Fatimah. Mereka berdua tinggal
dan melewati hari-hari bersama sejak kecil. Hingga menjelang remaja,
tumbuhlah rasa cinta Ali kepada Fatimah. Hatinya dipenuhi keinginan
untuk selalu berada di samping Fatimah. Tapi Ali tidak bodoh. Ia adalah
pemuda yang beriman. Ali berusaha untuk selalu menjaga hatinya. Ia
pendam rasa cinta itu bertahun-tahun. Ia simpan rasa itu jauh di dalam
lubuk hatinya bahkan si Fatimah pun tidak pernah tahu bahwa Ali
menyimpan lama rasa cinta yang luar biasa untuknya.
Hingga ketika
Ali telah dewasa dan telah siap untuk menikah, maka Ali pun berniat
menghadap Rasul dengan tujuan ingin melamar putri Rasul yang tak lain
adalah Fatimah, seorang perempuan yang sudah lama Ali kagumi. Tapi
sayang, niat Ali telah didahului oleh Abu Bakar yang sudah duluan
melamar Fatimah. Ali pun harus ikhlas bahwa cintanya selama ini berakhir
pupus. Apalagi Abu Bakar adalah sahabat setia Rasul yang sangat shalih
dan begitu sayang kepada Rasul, dan rasul pun menyayanginya. Sedangkan
Ali merasa dirinya hanyalah seorang pemuda yang miskin. Sungguh
jauh bila dibandingkan dengan seorang mulia seperti Abu Bakar, pikirnya.
Rencana
Allah memang sulit ditebak oleh manusia, ternyata Rasul hanya diam
ketika Abu Bakar melamar putri beliau. Maksudnya, Rasul menolak secara
halus lamaran Abu Bakar. Ali pun senang. Karena masih merasa memiliki
kesempatan melamar Fatimah. Maka Ali pun bergegas ingin segera melamar
Fatimah sebelum didahului lagi.
Namun sungguh sayang sekali,
lagi-lagi Ali didahului oleh Umar. Lagi-lagi, hati Ali tersayat. Ali
sangat bersedih. Sama seperti dengan Abu Bakar, Ali merasa tak ada
harapan lagi. Lagipula, apakah cukup dengan cinta ia akan melamar
Fatimah? Karena ia hanyalah seorang pemuda biasa yang mengharapkan
seorang putri Rasul yang luar biasa. Berbeda bila dibandingkan dengan
Umar seorang keturunan bangsawan yang gagah dan berkharisma. Dan, Ali
yakin Fatimah pasti akan bahagia bersama Umar.
Maka Ali pun hanya
bisa bertawakal kepada Allah, semoga dikuatkan dengan derita cinta yang
sedang dialaminya. Kali ini, Ali harus benar-benar ikhlas dan tegar
menghadapi kenyataan itu. Namun Ali adalah pemuda yang shalih. Ia pun
yakin bahwa Allah MahaAdil. Pasti Allah sudah mempersiapkan pendamping
hidup baginya. Derita cinta memang menyakitkan. “Aku mengutamakan
kebahagiaan Fatimah diatas cintaku,” bisik Ali dalam hati.
Disaat
Ali merasakan derita cintanya, tak disangka-sangka, datanglah Abu
Bakar dengan senyum indahnya. Dan memberitahu Ali untuk segera bertemu
dengan Rasul karena ada yang ingin beliau sampaikan. Pikir Ali, pasti
ini tentang pernikahan Umar dengan Fatimah. Sepertinya Rasul meminta Ali
untuk membantu persiapan pernikahan mereka. Maka Ali pun menyemangati
dirinya sendiri agar kuat dan tegar. Walaupun sebenarnya, hatinya sangat
perih teriris-iris. Apalagi harus membantu mempersiapkan dan
menyaksikan pujaan hatinya menikah dengan orang lain.
Sungguh
rencana Allah memang yang paling indah. Setelah Ali bertemu Rasul, tak
disangka, lamaran Umar bernasib sama dengan lamaran Abu Bakar. Bahkan
Rasul menginginkan Ali untuk menjadi suami Fatimah. Karena Rasul sudah
lama tahu bahwa Ali telah lama memendam rasa cinta kepada putrinya. Ali
pun sangat bahagia dan bersyukur. Ia pun langsung melamar Fatimah
melalui Rasul. Tapi, Ali malu kepada Rasul karena ia tak memiliki
sesuatu untuk dijadikan mahar. Apalagi ia selama ini dihidupi oleh Rasul
sejak kecil.
Namun, sungguh mulia akhlak Rasul. Beliau tidak
membebankan Ali. Rasul berkata bahwa nikahilah Fatimah walaupun hanya
bermahar cincin besi. Akhirnya, Ali menyerahkan baju perangnya untuk
melamar Fatimah. Rasul pun menerima lamaran itu. Fatimah pun mematuhi
ayahnya serta siap menikah dengan Ali. Akhirnya Ali pun menikah dengan
Fatimah, perempuan yang telah lama ia cintai.
Sekarang, Fatimah
telah menjadi istri Ali. Mereka telah halal satu sama lain. Beberapa
saat setelah menikah dan siap melewati awal kehidupan bersama, yaitu
malam pertama yang indah hingga menjalani hari-hari selanjutnya bersama,
Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai suamiku Ali, aku telah halal
bagimu. Aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan
aku suami yang tampan, shalih, cerdas dan baik sepertimu.”
Ali pun
menjawab, “Aku pun begitu, wahai Fatimahku sayang. Aku sangat bersyukur
kepada Allah, akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah
menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu.”.
Fatimah
pun berkata lagi dengan lembut, “Wahai suamiku, bolehkah aku berkata
jujur padamu? Karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara
kita dan kelanjutan rumah tangga kita.”
Kata Ali, “ Tentu saja istriku, silahkan. Aku akan mendengarkanmu.”
Fatimah
pun berkata, “Wahai Ali suamiku, maafkan aku. Tahukah engkau bahwa
sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan
memendam rasa cinta kepada seorang pemuda. Aku merasa pemuda itu pun
memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya, ayahku menikahkan aku
denganmu. Sekarang aku adalah istrimu. Kau adalah imamku, maka aku pun
ikhlas melayani, mendampingi, mematuhi dan menaatimu. Marilah kita
berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhai Allah.”
Sungguh
bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi
bahtera kehidupan bersama. Suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus
dari hati perempuan shalihah. Tapi, Ali juga terkejut dan sedih ketika
mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya, ternyata Fatimah telah
memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa bersalah karena
sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak
lain adalah ayahnya Fatimah. Ali kagum dengan Fatimah yang mau merelakan
perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan
mau menjadi istri Ali dengan ikhlas.
Namun Ali memang pemuda yang
sangat baik hati. Ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami
Fatimah. Tapi karena rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada
Fatimah, hati Ali pun merasa tidak tega jika hati Fatimah terluka.
Karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan
sekarang, Fatimah sedang merasakannya. Ali bingung ingin berkata apa,
perasaan di dalam hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia
telah menikah dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi
istrinya. Tapi di sisi lain, Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka.
Ali pun terdiam sejenak. Ia tak menanggapi pernyataan Fatimah.
Fatimah pun lalu berkata, “Wahai Ali, suamiku sayang. Astagfirullah, maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu. Demi Allah, aku hanya ingin jujur padamu.”
Ali
masih saja terdiam. Bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah
Fatimah yang cantik itu. Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil
merayu Ali, “Wahai suamiku Ali, tak usahlah kau pikirkan kata-kataku
itu.”
Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan
Fatimah, tiba-tiba Ali pun berkata, “Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat
mencintaimu. Kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku
demi untuk ikatan suci bersamamu. Kau pun juga tahu betapa bahagianya
kau telah menjadi istriku. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku
juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh, aku tak
ingin orang yang kucintai tersakiti. Aku begitu merasa bersalah jika
seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta
kepadaku. Walupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat
sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai
akhirnya kau mencintaiku.”
Fatimah pun tersenyum haru mendengar
kata-kata Ali. Ali diam sesaat sambil merenung. Tak terasa, mata Ali pun
mulai keluar airmata. Lalu dengan sangat tulus, Ali berkata, “Wahai
Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikitpun dari
dirimu. Kau masih suci. Aku rela agar kau bisa menikah dengan pemuda
yang kau cintai itu. Aku akan ikhlas, lagipula pemuda itu juga
mencintaimu. Jadi, aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Karena ia
pasti akan membahagiakanmu. Aku tak ingin cintaku padamu hanya bertepuk
sebelah tangan. Sungguh aku sangat mencintaimu. Demi Allah, aku tak
ingin kau terluka.”
Dan Fatimah juga meneteskan airmata sambil
tersenyum menatap Ali. Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali
kepadanya. Cinta yang dilandaskan keimanan yang begitu kuat. Ketika itu
juga, Fatimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata,
“Tapi Fatimah, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa
cintanya itu? Aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu. Namun
ijinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu.”
Airmata Fatimah
mengalir semakin deras. Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya
dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu Fatimah pun berkata
dengan tersedu-sedu, “Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu.
Sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah.” Berkali-kali Fatimah
mengulang kata-katanya.
Setelah emosinya bisa terkontrol, Fatimah
pun berkata kepada Ali, “Wahai Ali, awalnya aku ingin tertawa dan
menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa
sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah
denganmu. Aku hanya ingin menggodamu. Sudah lama aku ingin bisa
bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia.
Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah.”
Ali menjadi
bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal
dengan ulah Fatimah kepadanya, ”Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang
padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau
malah kau bilang sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingin tertawa
melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah? Tolong
sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia
sudah menikah?”
Fatimah lalu memeluk mesra lagi, lalu menjawab
pertanyaan Ali dengan manja, “Ali sayang, kau benar seperti yang
kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu. Aku
memendamnya bertahun-tahun. Sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya.
Tapi aku terlalu takut. Aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah
berikan ini. Aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta
apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila
kubertemu dengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku. Ia memang sudah
menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku? Pada malam pertama
pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang
baru dinikahinya.”
Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera
melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali, ”Kau
ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia
berada disisiku. Aku sedang memeluk mesra pemuda itu. Tapi dia hanya
diam saja. Padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja
padanya. Aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata
memang dugaanku benar. Ia juga sangat mencintaiku.”
Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu?”
Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku.”
Berubahlah
mimik wajah Ali menjadi sangat bahagia dan membalas pelukan Fatimah
dengan dekapan yang lebih mesra. Mereka masih agak malu-malu. Saling
bertatapan lalu tersenyum dan tertawa cekikikan karena tak habis pikir
dengan ulah masing-masing. Mereka bercerita tentang kenangan-kenangan
masa lalu dan berbagai hal. Malam itu pun mereka habiskan bersama dengan
indah dalam dekapan Mahabbah-Nya yang suci. Subhanallah.
Ali
dan Fatimah pun menjalani rumah tangga mereka dengan suka maupun duka.
Buah cinta dari pernikahan Ali dan Fatimah adalah putra tampan bernama
Hasan dan Husain. Mereka berdua adalah anak yang sangat disayangi
orangtuanya dan disayangi Rasul, kakek mereka. Juga disayangi keluarga
Rasul yang lain tentunya. Mereka berdua nantinya juga menjadi tokoh dan
pejuang Islam yang luar biasa.
Selama berumah tangga, Ali sangat
setia dengan Fatimah, ia tak memadu Fatimah. Cintanya Ali memang untuk
Fatimah, begitupun cinta Fatimah memang untuk Ali, mereka juga
bersama-sama hidup mulia memperjuangkan Islam. Hingga hari itu pun tiba,
semua yang hidup pasti akan kembali ke sisi-Nya. Ali, Hasan dan Husin
dilanda kesedihan. Fatimah terlebih dahulu wafat, meninggalkan suami,
anak-anak dan orang-orang yang mencintai dan dicintainya.
Itulah kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad. Subhanallah.
Allah memang Mahaadil. Rencana dan skenario-Nya sangat indah. Ada
beberapa hikmah dari kisah cinta mereka. Ketika Ali merasa belum siap
untuk melangkah lebih jauh dengan Fatimah, maka Ali mencintai Fatimah
dengan diam. Karena diam adalah satu bukti cinta pada seseorang.
Diam memuliakan kesucian diri dan hati sendiri dan orang yang dicintai.
Sebab jika suatu cinta diungkapkan namun belum siap untuk mengikatnya
dengan ikatan yang suci, bisa saja dalam interaksinya akan tergoda lalu
terjerumus kedalam maksiat. Naudzubillah. Biarlah cinta dalam
diam menjadi hal indah yang bersemayam di sudut hati dan menjadi rahasia
antara hati sendiri dan Allah Sang Maha Penguasa Hati. Yakinlah Allah
Mahatahu para hamba yang menjaga hatinya. Allah juga telah mempersiapkan
imbalan bagi para penjaga hati. Imbalan itu tak lain adalah hati yang
terjaga.
Semoga kisah ini bermanfaat bagi para insan yang
merindukan cinta suci karena-Nya, yang sedang berikhtiar sekuat hatinya,
dan yang saat ini menanti dengan sabar demi menyambut jalan cinta yang
diridhai-Nya. Mohon maaf apabila ada esensi kisah yang kurang pas dengan
aslinya. Mohon diluruskan jika ada redaksi kisah yang salah dari saya.
Sesungguhnya kebenaran berasal dari Allah dan segala khilaf maupun salah
berasal dari manusia seperti saya. Wallahu’alam bishshawwab.
14.32
Senin, 24 Februari 2014
Monolog dengan Semua Romansanya
Entah apa yang membuat pikiran ini selalu bergejolak ketika memikirkan kalian malaikat kecilku, diri ini selalu bermonolog dg semua romansanya..
Sebelum tanganku berubah menjadi angin
menyapu seluruh senja, merenungi keusaian dari titik kabut,
tinggalkan lembah sajak pada kata-kata
hingga tandas seluruh makna tertelan arwah bulan.
Sebelum tanganku menjelma angin,
bangun bayang-bayang di matamu
seperti kastil yang roboh seribu tahun lalu di otakku,
menggulung mimpi-mimpi tanpa malam,
menepis cahaya berlumur abjad dan lafal doa,
saat tubuhku menjadi lebih ringan dari embun.
Kutukan malam mengantarku pada sunyi.
Gemeretak tulang-tulang bukit terdengar nyaring
menyerupai lolongan bidadari saat terbang bersama pelangi.
Kudirikan istana pasir di pantai selatan
untuk tidurmu bersama ombak.
Meski sedikit gemetar terdesak karang laut,
tapi kilaunya terus mengalir menuju pelir.
Sebelum tanganku berubah jadi angin,
angkatlah tinggi-tinggi gaunmu,
biarkan benangnya kusut seperti rambut malaikat di surga.
Suatu saat pantaiku akan menjemput keusaian
seperti istana pasir yang pernah kubangun
dan menggemakan lonceng di ujung menaranya
ketika istana kecilku
mulai tak berpenghuni,
Hanya debu yang terhempas
bersama sisa-sisa sang malam..
-SN-
20.39
Minggu, 16 Februari 2014
Al Furqon Aura Kehidupan
-30 Juli 2012-
Surgaku adalah lembah penuh bukit
Surgaku adalah lembah penuh bukit
Berkelok
seperti pikiranku yang terjal ditelan bulan
Lentera
kecil tak mampu membawaku kesana,
Sampai
aku lelah menghitung jejak tanah penuh tapak
Sang
Khalik memanggil penuh arti,
Seakan
menorehkan senyum kerang di ujung samudera,
Terentang
ganggang pantai menuju muara
Menarikan
pujian tanpa suara
Dzikir
ombak bergelegak di dasar bayanganku
Tahajjud
jalan kuyup bersikelok membawaku dalam naungan sang bidadari
Sesungguhnya
telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan
kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu
dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang-benderang dengan seizin-Nya, dan
menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al-Ma’idah : 15-16)
Bulan
Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk
bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda
(antara yang benar dan yang bathil).... (Al-Baqarah: 185)
Al-Quran
merupakan kitab yang syamil dan mutakkamil. Al-Quran sebagai penyejuk hati,
yang menggugah hati, namun eksistensinya banyak dari setiap insan yang kurang menyadari
esensi dari kalam Allah. Bukan karena manusia yang minim akan perkataan indah
Allah namun karena kebutuhan akan pembelajaran hati untuk menyentuhnya
terkendali oleh diri dan jiwa insan. Tak dipungkuri juga banyak insan setiap
hari membaca Al-Quran namun tak memahami arti dan mengaplikasikan isi dari
Al-Quran. Padahal banyak sekali keutamaan dari Al-Quran. Sehingga sampai detik
waktu, sang muslim akan dipenuhi berbagai tanda tanya mengapa ia berada dalam
suatu kehidupan.
Nampaknya
perlu diistimewakan kalimat “Makanan
terbaik bagi hati adalah keimanan, obat terbaiknya adalah Al-Qur’an”. Pemahaman
ini akan merujuk pada nikmatnya menggali ilmu al-Qur’an. Al-Furqon merupakan
obat hati yang paling manjur ketika sang insan mendapati sebuah cobaan
kegelisahan, kebimbangan, keresahan maupun penurunan kualitas keimanan lain.
Sungguh, Al-Quran merupakan penyempurna kekuatan hati. Bila kekuatan Al-Quran
tak mampu menggoyahkan hati kita, maka bisa jadi jiwa dan nurani kita kurang
menghayati keimanan kita. Alunan Al-Furqon yang menyejukkan, menenangkan, dan
menggelorakan. Itulah mungkin suatu penjabaran dari definisi sebuah kehidupan. Hidup
adalah simfoni yang kita mainkan dengan indah. Al-Quran merupakan nafas jiwa
dan ruh yang menggelora dalam hati. Ia merupakan jendela cinta dan sarana
komunikasi kita pada Sang Khalik. Perlu sebuah keserasian dan harmoni untuk
menyatukan kehidupan dengan cinta-Nya. Sehingga rangkaian batin, nurani, dan
jiwa serempak menghasilkan ketergantungan produktif pada kalam Allah bak daun
yang menggantungkan dirinya pada sang air dan sang matahari untuk
berfotosintesis.
Al-
Furqon membingkai romantika perjuangan dalam setiap aktivitas nadi dan jiwa
kita. Tanpanya seluruh nilai pikiran dan perasaan akan hilang dilanda sebuah
kerinduan akan alunan panjinya. Cahayanya memvisualisasi sebuah kekuatan
kesatuan, keagungan, keluhuran dan ketinggian yang melahirkan taman kehidupan
yang indah. Gelora magnetiknya selalu mengingatkan kita akan pesona keindahan
rangkaian kalimatnya. Jiwa akan tergerak untuk menikmati kaidah keagungannya.
Bukan hanya sebuah icon, namun
merupakan penggugah jiwa prajurit yang dibariskan hingga saling melembut dan
menyatu. Al-Quran adalah sebuah kebutuhan eksistensial yang sangat mengagumkan
dan mengikat insan manusia.
Al-Quran merupakan aura kehidupan, dimana setiap
insan yang membaca akan merasakan hamparan keindahan al-quran, merasakan denyut
nadi kehidupan, merasakan alasan merakit pemaknaan tiada batas terhadap
kehidupan. Ia membuat insan yang mendendangkan merasa hidup. Sebab ia menebar
benih kehidupan di ladang hati kita. Aura kehidupan. Tepat, aura kehidupan.
Kehidupan itu nyata pada setiap hembusan nafas kita, pada setiap detak jantung
kita, pada setiap jengkal tubuh kita, pada setiap langkah kaki kita, pada
setiap uluran tangan kita, pada setiap kedip mata kita, pada setiap kata dan
suara kita. Benar, aura kehidupan. Sebab ia mengomplekskan tiga pesona utama
para perindu surga: pesona raga, pesona jiwa, dan pesona ruh.
Ketiga pesona tersebut terbingkai rapih pada sebuah
“akal besar“ yang menerangi kehidupan rabbaniyah. Maka mendekatlah pada-Nya,
niscaya engkau kan merasakan betapa air kehidupan serasa mengalir pada setiap
sudut jiwa dan ragamu. Pahamilah kata – kata-Nya, maka engkau kan merasakan
betapa engkau layak dan pantas mendapat kehidupan yang berkualitas, kehidupan
yang lebih baik. Dan jika Allah mengizinkan jiwa kita merasakan sentuhan
keindahan-Nya, niscaya kita kan merasakan betapa air kehidupan mendidih dalam tubuh
kita. Dan jika Allah memperkenankan kita hidup lama, niscaya kita kan merasakan
betapa perlindungan-Nya membuat kita terengkuh dalam rasa damai, aman, dan
nyaman. Namun masihkah kita diberi kesempatan oleh-Nya untuk berdiri kokoh di
dunia lebih lama? Masihkah kita menunggu dan mengharapkan kesempatan kedua
dari-Nya?
Sesungguhnya
orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan
menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan
diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak
akan merugi.(Faathir:29)
Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Al-Qasash : 77).
ALLAHU AKBAR !!! - SN-
13.16
Dari Gerakan ke Negara
Tugas DM2 (Dauroh Marhalah 2)
30 Agustus 2012
Hijrah
dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW adalah sebuah metamorfosis dari “gerakan”
menjadi negara. Rasulullah melakukan penetrasi sosial yang sangat sistematis,
dimana Islam menjadi jalan hidup individu, dimana Islam “memanusia” dan
kemudian “memasyarakat”. Sekarang melalui hijrah, masyarakat bergerak linear
menuju negara. Melalui hijrah, gerakan itu “menegara”.
Perubahan sosial mempunyai landasan pada sifat
natural manusia, baik sebagai individu
maupun masyarakat. Model perubahan selalu gradual dan bertahap, prosesnya
cenderung evolusioner tapi dampaknya lebih cenderung bersifat revolusioner.
Inilah makna firman Allah SWT. “Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka
sendiri.” (Ar-Ra’d:11).
Dalam konsep politik islam, syariat yang disebut sistem
atau hukum merupakan suatu given.
Negara merupakan institusi yang diperlukan untuk menerapkan sistem. Sehingga
dalam penjelasan ini akan menerangkan perbedaan mendasar dengan negara sekuler,
dimana sistem/ hukum mereka adalah hasil dari produk kesepakatan bersama karena
hal tersebut sebelumnya dianggap tidak ada.
Negara merupakan sebuah peradaban, dimana institusi
negara dalam konsep islam ialah sarana untuk menegakkan sebuah peradaban.
Negara bukanlah sebuah akhir, justru merupakan awal dari sebuah peradaban.
Manusia adalah subyek, negara adalah institusi, dan peradaban adalah karyanya.
Nasionalisme yang menjadi ruh dari konsep negara-bangsa mulai memudar dan
nasionalisme religius muncul sebagai alternatif baru di negara-negara islam.
Permasalahan negara bukan merujuk pada bentuk, tapi pada konsep kekuasaan, dan
misi yang akan diemban yang bisa merujuk pada ideologi atau kepentingan.
Manusia untuk sebuah cita-cita, manusia muslim harus
direkonstruksi ulang dalam tiga tahapan dimana yang pertama memperbaharui
afiliasinya kepada islam kembali, memperbaharui keislaman dengan memperbaiki
pemahamannya pada islam, dan partisipasi paling optimal dalam memberikan
kontribusi kepada islam.
Proyek sekularisasi gagal di dunia islam, dapat
dijelaskan dalam dua perspektif yaitu akidah dan rasio. Secara akidah,
kegagalan hanyalah pembuktian empiris dari janji Allah SWT. Penjelasan
rasionalnya yaitu kekuatan sekuler tidak bersumber dari dunia islam tapi dari
Barat atau dari Timur, rezim-rezim diktator telah menciptakan penderitaan
rakyat yang panjang, kegagalan membangun telah menghilangkan kepercayaan
masyarakat terhadap janji-janji modernisasi, gerakan tidak pernah sanggup
membawa konsep-konsep pemikiran yang original, komprehensif, berlandaskan
metodologi yang kokoh, dan output empiris yang sukses. Itulah, disamping karena
secara substansial memang kosong, secara struktural gerakan ini sangat rapuh.
Pemimpin sesuai era dakwahnya, nampaknya memang ada
kesulitan bagi sebagian besar pemimpin Islam saat mempersepsi perjalanan dua
entitas secara berbeda yaitu entitas negara dan gerakan islam. Dalam periode
dakwah saat ini, dibutuhkan seorang pemimpin yang kuat dan memiliki kemampuan
kepemimpinan yang mumpuni untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Selain itu,
pemimpin juga tentu seorang demokrat yang memberi ruang gerak yang luas dan
nyaman bagi umat islam yang tumbuh dan berkembang sekaligus memiliki empati terhadap
harakah dan memberikan ruang partisipasi yang besar dalam proses pengelolaan
negara. Harakah harus memainkan peran sebagai pelopor koalisi besar kekuatan
Islam dan reformis, sekaligus sebagai match-maker
(penyelaras) dalam koalisi.
Hasan Al-Banna, memang tidak sempat menyelesaikan seluruh
agenda kebangkitannya. Namun ia telah memulainya dengan benar sesuai
tahapannya. Sebagian organisasi islam mati bersama matinya pemimpinnya. Tapi
tidak bagi ikhwan. Walaupun Al-Banna merupakan legenda, sebuah organisasi harus
tetap dikelola dengan sistem. Ia telah merancang sistem hingga sistem ini
bekerja bahkan setelah ia syahid.
Penjelasan Dari Gerakan ke Negara merupakan penjelasan
yang sangat komprehensif, dimana menjelaskan dari tahapan penegakan negara oleh
rasulullah, hingga kebangkitan dakwah rasulullah zaman Hasan Al-Banna dan masa
reformasi indonesia serta wacana-wacana politik barat dan manajemen transisi
dalam menata ulang taman Indonesia. Dari Gerakan ke Negara dalam penyampaiannya
terlalu fluktuatif sehingga kata-kata agak sulit dipahami. Manusia adalah
subjek, negara adalah institusi, dan peradaban adalah karyanya. Manusia,
peradaban, dan model negara seperti apakah yang mampu mewujudkan cita-cita
mulia bagi rahmatan lil ‘alamin? Anda sedang mempersiapkan diri menjadi model
manusia sebagai subjek bagi terlahirnya sebuah negara dan peradaban yang penuh
kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan. Kader dakwah yang mempersiapkan diri
membangun negara dari sebuah gerakan. –SN-
13.03
Sabtu, 11 Mei 2013
CERITA SEBUAH KATA
SEBUAH KISAH NYATA YANG MENGHARUKAN
***
Oleh: Akhyar Hadi, Mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan 1433 H
Juara I Kategori: Lomba Karya Tulis Bebas Pekilo UIM
Lelaki itu seperti lelaki tua biasa. Biasanya lelaki tua sepertinya ditemui di lambung Masjid Nabawi, sebagai jamaah umroh akibat terlalu lama menunggu giliran haji. Atau lelaki tua sepertinya ada di sawah, kelelahan mencangkul walau matahari baru naik setengah. Bisa juga lelaki sepertinya kita temui sedang duduk-duduk di teras sambil menghias pot bunga, membersihkan rumput, dan menanam pohon kecil di pekarangan. Atau, kalau kita menyaksikan berita banjir di TVRI, lelaki seperti ini biasanya diwawancarai karena terlambat mendapat jatah bantuan mie instan. Dia jenis lelaki yang mudah didapati. Lelaki tua yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Diusianya yang sudah memasuki kepala enam, wajar jika seluruh rambut di kepalanya memutih. Tiap-tiap helai itu adalah gambaran masalah yang dilaluinya, guratan-guratan kerut di wajahnya adalah lambang goresan waktu yang jemawa. Tangan kanan dan kirinya tak lagi sekuat dulu. Bahunya yang dulu kekar, kini mulai kurus dan membungkuk. Ototnya lemah. Kadang dia beristighfar sambil menarik napas panjang ketika lelah. Tapi kawan, matanya istimewa. Di situlah pusat gravitasi pesona dirinya. Matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. Seseorang yang biasa kucium tangannya. Ayah, kupanggil ia.
...
Ayahku adalah ayah pada umumnya. Ayah yang ketika aku kecil, menyediakan tempat duduk istimewa untukku saat karnaval kota malam Idul Fitri. Dia mendudukkanku di bahunya, digenggamnya erat kakiku agar nyaman saat duduk. Tak ia pedulikan karnaval itu. Karena tawaku adalah karnaval baginya. Bahagiaku adalah iringan semangat hidupnya.
Aku juga masih kecil saat itu. Ayah hanya seorang supir truk batubara di pedalaman Kalimantan. Bekerja selepas Isya lalu pulang sehabis Shubuh. Ayah adalah lelaki pendiam, tak banyak bicara. Tak suka memukul. Tak pandai ia marah. Walau begitu, ayah adalah tolak ukur tindakan bagiku, contoh hidup tingkah laku. Tak pernah ia cerewet menyuruhku salat. Ia hanya mengerjakan, lalu mengajakku bersamanya. Sesederhana itu, Kawan. Ia juga sangat ingin aku sering-sering membaca Al-Quran, walau tak pernah ia menyuruh. Walau tak pernah ia mencontohkan cara membaca Al-Quran. Kau tahu kenapa, Kawan? Karena kutahu, ia pun terbata membacanya.
Biasanya aku menghabiskan waktu bersama ayahku tiap akhir pekan. Aku senang berada di bak truk besarnya. Beliau duduk bersamaku sambil bercerita. Tentang para pahlawan, tentang panorama-panorama, bintang dan planet-planetnya, tentang semesta, juga tentang kota-kota yang pernah disinggahinya. Dia senang bercerita tentang banyak kota, dan aku tahu kota impiannya adalah Mekkah dan Madinah. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan kota itu melebihi kota manapun di dunia. Walau dia tak mengatakannya langsung, tapi aku tahu dengan sendirinya, seolah ada bahasa lain selain bahasa lisan, bahasa yang dijalin antara seorang anak dan ayahnya dari hati ke hati.
“Ayah ingin sekali pergi haji.”
Begitu kiranya jika kata itu diucapkan.
...
Aku masih muda, sedang ayah menua. Semenjak krisis ekonomi, harga batubara anjlok. Ayah dengan setumpuk masalah keuangan yang menimpanya bangkrut. Truk besar tua kami mogok. Rusak. Sekarat. Seolah bosan terlalu lama memikul bongkahan-bongkahan batu hitam langka. Tak bisa lagi diperbaiki karena tak ada biaya. Ayah tak bisa lagi bekerja. Ayah menganggur bertahun-tahun lamanya.
Ayah pun sekarang menikmati masa tuanya dengan belajar banyak dari agama. Sering pergi ke kajian-kajian ilmiah. Rajin ia membaca. Berlama-lama dengan kumpulan buku dan majalahnya. Jiwa tua itu masih sangat antusias. Sesuatu yang tak ia dapat selagi muda. Matanya, iya matanya, selalu membulat ketika menjelaskan kalau bid’ah itu semuanya sesat. Walau kata-katanya sedikit, aku dibuatnya percaya kalau semua kesesatan itu tempatnya di neraka. Dia juga orang paling mengamati tiap senti celana. Dijaganya agar aku tak menjulurkan pakaian melebihi batasnya. Ayah sangat senang pergi ke masjid. Tak pernah absen ia ke sana. Tubuh tuanya itu mendadak kuat jika berjalan sebelum waktu Shubuh yang dingin, dan jika ia pergi ke masjid sebelum Maghrib, maka ia akan datang ke rumah setelah Isya. Dengan kaki-kaki tuanya. Hampir satu kilometer jauhnya.
Setelah lulus sekolah menengah atas di sebuah kota di Banjarmasin, aku merantau belajar menjadi mekanik handphone dan komputer di tempat pamanku, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah setahun di sana dan merasa punya skill, aku kembali ke Banjarmasin dengan tujuan bisa kuliah sambil membuka sebuah toko service handphone dan komputer. Aku mulai membeli alat-alat service, juga iklan di sana-sini. Mendadak, aku terkenal dengan julukan tukang handphone. Aku menjalankan bisnis ini pelan-pelan, dari pintu ke pintu. Mulai dari keluarga sampai orang-orang di sekitarku. Pelangganku pun bermacam-macam, Kawan. Dari tukang kambing, pedagang asongan, pengangguran, ustadz, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa. Kau tahu, Kawan, kenapa mereka senang aku memperbaiki telepon tangan mereka? Jawabannya adalah karena mereka bisa menentukan garansi semau mereka.
Namun hari itu, Kawan, hari itu adalah hari aku bersama ayah pergi ke sebuah majelis taklim, di mana setelah memberikan tausiyah, seorang ustadz menawarkan beasiswa bagi lulusan SMA yang ingin menghafal Al-Quran di Bogor. Ayah menunduk. Didengarnya iklan itu dengan seksama. Aku melihat matanya.
“Ayo kita pulang, Yar.”
Mata teduhnya tak bisa mengecohku. Sembilan belas tahun menjadi anaknya tentu aku mengerti maksudnya.
Ia ingin Aku lebih baik darinya. Bisa membaca Al-Quran dengan sempurna. Tak seperti dirinya yang terbata. Namun tak bisa ia meminta. Ia masih tak banyak bicara.
“Saya mendaftar beasiswa itu, Yah. Kalau diterima Saya langsung berangkat ke Bogor.”
Kulihat matanya membulat. Wajahnya berseri seketika.Walau tanpa kata, namun ada senyum di sana. Bagiku, melihatnya tersenyum adalah sebuah harta.
...
Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu. Walau aku tahu, aku sebenarnya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik, setidaknya aku akan berusaha. Setidaknya aku akan belajar untuk membuatnya bangga. Aku ingin mengajarinya, membaca Al-Quran bersamanya. Walau aku sadar, Aku hanya seorang tukang service handphone. Tapi Kawan, bukankah Syaikh Albani yang nama beliau sering kujumpai di buku dan majalah ayahku juga pernah menjadi seorang mekanik jam?
Hari itu aku meninggalkannya merantau lagi ke pulau Jawa. Setelah mencium tangannya, aku memeluknya. Hangat sekali peluknya, seperti selimut bagi seorang gelandangan kota Malang yang kedinginan. Jam dua malam.
“Hati-hati, Yar.”
Ia masih tak banyak berkata. Namun pelukannya itu bermakna. Nasihatnya mengandung harapan besar. Harapan agar anaknya bernasib lebih baik darinya. Dan begitulah seorang ayah seharusnya.
...
Aku merantau, menuju pulau Jawa. Tak muluk aku ingin jadi orang yang hafal Al-Quran, bagiku bisa membaca Al-Quran dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Mungkin bisa menjadi imam di kampung saat tarawih dengan ayahku menjadi makmum saja, aku sudah sangat bahagia. Karena aku telah berjanji membuatnya bangga. Tapi karena Allah, tetap menjadi niat yang utama.
...
Musim-musim berganti, setiap tahun aku pulang sekali. Mengunjungi ayah yang kurindui setiap hari. Ayahku adalah anak keenam dari empat belas bersaudara. Semuanya kaya raya kecuali dia, semua sudah naik haji kecuali dia.
Kini, setelah ia tak lagi memiliki perkerjaan, harapannya untuk naik haji hilang pelan-pelan. Namun bukan ayah namanya jika kehilangan semangatnya, dengan sedikit uangnya ia ikut mencicil TV kabel berlangganan, yang mana dibayar urunan beberapa keluarga dalam satu perumahan. Dengan TV tabung tahun 1998, dicarinya channel Mekkah dan Madinah. Di saat ia tidak berada di masjid, maka acara dua stasiun TV Arab Saudi itulah teman kesukaannya. Ia senang memonton sambil bersandar pada sebuah kursi. Jika ia bosan dengan siaran di Mekkah, maka digantinya ke siaran stasiun Madinah, jika bosan lagi, maka akan kembali ke stasiun semula. Terus berpindah seperti itu. Layaknya metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tak singgah ke terminal lain. Jika si tukang kameramen mengambil gambar Masjid Nabawi, lalu menyorot karpet hijau antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka bibirnya bergerak, seolah ia sedang meminta, berharap agar doanya diterima. Lain lagi jika sang kameramen menyorot ka’bah, maka ayah bangun dari sandarannya, dipasangnya kacamatanya agar tak samar pandangannya, seolah ia membayangkan dirinya berada di sana lalu mengitari rumah tua itu dengan bahagianya. Dipandangnya ka’bah dan beberapa bagian Masjidil Harom dengan haru, lalu diliriknya wajahku, seolah berkata,
“Kau lihat, Yar.. itu prosesi umroh. Lihat Yar! Lihat Baitullah, itu kiblat kita. Tahukah engkau, Anakku, Ayah sangat ingin ke sana. Ayah ingin mencium hajar aswad, Ayah ingin berlari-lari kecil seperti orang di Shafa dan Marwa itu, Yar.. Lihat! ”
Aku kelu. Pria pendiam ini juga menyimpan cita-citanya dalam diam.
Yang membuat pilu di hatiku semakin ngilu adalah ketika melihatnya di masjid bergaul dengan teman-teman seumurannya yang semuanya juga sudah pernah menunaikan ibadah haji. Adalah adat di kampung kami bahwa sebuah pemuliaan panggil memanggil dengan sebutan “haji”. Teman-temannya kadang memanggil ayah dengan sebutan haji hanya untuk memuliakan ayah yang umurnya terlihat lebih tua dari mereka. Aku mafhum, ayah kelu di hatinya. Ingin ia seperti teman-temannya. Panggilan itu hanya fatamorgana untuknya. Seperti melihat air di aspal nun jauh, semu, tak ada apa-apa.
Pernah suatu hari ayah menolong seseorang di jalan. Orang itu berterima kasih sembari mendoakan,
“Terimakasih, Pak. Semoga Bapak cepat naik haji,” lirihnya.
Hari itu aku melihat ayahku tersenyum. Senyum itu, Kawan, senyum itu begitu dalam maknanya, untukku dan untuknya. Untuknya karena doa itu masuk ke hatinya lalu ia berharap agar di-ijabah Tuhan pemilik timur dan barat. Untukku, karena aku ingin sekali melihat ayahku tersenyum lagi, seperti hari ini, aku ingin sekali ayah pergi ke rumah Allah. Tuhan pemilik arah kiblat.
...
Di tengah perantauanku di Pulau Jawa. Setelah berganti-ganti pondok tahfizh beberapa kali, aku bermukim di Jogja. Hari itu, aku menelpon ayah, mengabari bahwa ada tes penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Pria tua itu terperanjat. Lalu membanjiriku dengan kata. Bercerita ia, tiap detail katanya adalah semangat dan intonasinya berupa letupan-letupan motivasi. Ia laksana merapi yang menumpahkan seluruh larva. Mencurahkan apa yang ia rasa. Ia berjanji akan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bisa ikut tes perguruan tinggi yang ia katakan sebagai universitas Islam terbaik di dunia. Aku pun terperanjat. Ganjil sekali, seolah itu bukan ayahku yang pendiam.
Dan yang paling membuatku haru adalah ketika ia berkata, “Jangan pikirkan masalah uang, Nak, jangan pikirkan. Ayah yang akan mencarikan. Insya Allah.”
Terisak ia.
Kau tahu, Kawan, ayahku sekarang hanya supir ambulan sebuah masjid, itu pun terkadang. Tak setiap hari ia dapat uang. Ia berjanji akan menyisipkan namaku dalam setiap doanya, di sepertiga malamnya. Setiap harinya.
...
Hari itu dua puluh dua tahun usiaku. Berada di pedalaman Jawa selepas salat Shubuh. Aku bersama dua orang temanku, Isnan dan Mukhroji. Kami baru saja mengikuti tes masuk Universitas Islam Madinah di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Kami memutuskan pulang setelah Shubuh. Nahas, pedalaman Ponorogo itu bukanlah Bogor yang angkot bisa lewat 24 jam. Kami menunggu sampai matahari meninggi. Berharap ada tumpangan transportasi.
Mukhroji cemas, ia harus secepatnya sampai ke Tegal karena ada suatu urusan keluarga. Berkali-kali pemuda tinggi ini menoleh ke sana-kemari berharap angkutan pedesaan segera datang. Sebentar duduk, ia bangkit berdiri, lalu menoleh lagi. Kawanku ini mungkin mendapat musykil yang berat dalam keluarganya. Lain lagi si Isnan, pemuda ramah asal Klaten ini ingin cepat pulang karena hampir setiap hari di sini ia memakan pecel khas Jawa Timur. Yang mana efek sampingnya adalah bosan, tak selera makan, dan sedikit mengganggu pencernaan. Pemuda terakhir, yaitu Aku, dengan alasan yang sama dengan Isnan. Karena kami membeli makanan secara patungan. Di pagi itu, kami menunggu dengan kumpulan rasa bosan.
Namun di ujung jalan, sayup-sayup bayangan kecil muncul, membesar dan kian dekat dengan tiga orang malang tadi. Bayangan itu menjadi nyata berupa sebuah mobil besar, gagah, dan nyaring bunyinya. Sebuah truk. Namun wajah dua temanku datar. Berbeda denganku yang sumringah tiap melihat sebuah truk. Kulambaikan tangan, girang aku. Berteriak-teriak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ayunan di sebuah taman bermain.
Truk itu berhenti. Aku membuka pintu. Seorang pria di sana. Tak terlalu muda. Kutaksir empat puluhan umurnya. Pandangan matanya, seolah sudah tahu sebelumnya bahwa tiga orang di pinggir jalan itu hanya akan merepotkannya. Wajahnya sangar. Mimiknya kasar. Otot-otot badannya besar. Ia mirip tukang pukul seorang pejabat yang baru saja dilantik menjadi bupati.
Namun semua itu mencair ketika aku menatap matanya. Seolah ia melihat sesuatu di wajahku. Wajah yang seolah bicara. Berbicara bahwa ayahku adalah supir truk seperti dirinya. Dia pun seolah mengerti apa yang kubahasakan lewat wajah. Mungkin ada bahasa yang kurasa hanya aku dan para supir-supir truk saja yang memahaminya. Atau mungkin juga karena wajahku memelas dengan sempurna.
“Naiklah!” Ia langsung ramah. Entah kemana si tukang pukul bupati ini menaruh mimik seram yang diperagakannya sebelumnya.
Isnan dan Mukhroji naik dan duduk disamping sang supir. Hanya bisa untuk dua orang tempat duduknya. Aku? Ah, Kawan, aku mencari tempat favoritku. Menaiki bak truk itu. Bak itu hanya persegi panjang dari besi dengan sisa-sisa pasir berhamburan, melayang dan berputar terbawa angin. Aku duduk di sana. Hening. Bergoyang-goyang di jalan pedesaan yang bergelombang. Aku melamun. Di sana seolah ada lorong waktu yang membawaku jauh. Jauh ke masa lalu. Ke masa kecilku. Bersama ayahku di sebuah bak truk. Aku melihat ia bercerita. Aku mendengar intonasi khasnya. Aku mendengar suara kecilku tertawa. Aku merasa tubuh kecilku digendongnya. Wajah mudanya masih kuingat dalam pikiranku. Sesekali ia bercerita sambil mengusap rambut ikalku. Aku terbuai fantasi. Indah sekali.
Lorong waktu itu lalu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku sendiri di sini merindukannya. Dalam sebuah bak truk dengan sisa-sisa pasir di dalamnya. Mataku sakit diserang butiran-butiran pasir yang melayang dalam pusaran angin di bak. Tapi bukan itu alasanku untuk meneteskan air mata. Air itu jatuh karena aku rindu pada ayah. Rindu tak terkira.
...
Beberapa musim berganti dengan cepatnya. Banyak hal-hal yang tak pernah kita kira dan kita duga. Sebuah doa melesat ke langit dan dijawab oleh Tuhan Pemilik Semesta. Aku akhirnya diterima. Aku dapat beasiswa ke Madinah. Lagi-lagi aku merantau jauh meninggalkan seorang lelaki tua. Sebelum pergi aku memeluknya. Ia kembali menjadi dirinya yang tak banyak berkata. Tapi aku tahu, pelukan itu sudah mengatakan semuanya. Bahwa ia bangga. Ia bangga anaknya bisa ke kota impiannya. Kota yang sering ia ceritakan. Bahwa ia pun rela jika seandainya tak pernah bisa ke Madinah, asal anaknya bisa. Anaknya bisa lebih baik darinya. Bisa berangkat haji. Bisa salat dengan ganjaran ribuan kali. Lalu kudengar kata keluar dari mulutnya, pujian untuk Ilahi Robbi.
...
Hari ini, di mana aku berdiri, di kota yang mulia ini, adalah giliranku yang berusaha berbuat untuknya. Aku masuk dalam program persiapan bahasa, dua tahun lamanya, sebelum bisa kuliah di salah satu jurusan yang tersedia. Berada di sini adalah level terendah seorang mahasiswa. Aku di sini adalah gabungan antara kejahilan bahasa dan keberuntungan bisa berada di sini semakin lama.
Kau tahu, Kawan, Kau bisa saja merendahkanku karena hinanya aku di mata kalian, kita berbeda, Kawan. Aku masih memiliki ayah yang harus kubahagiakan. Tiap uang yang kuterima kusisihkan, tiap lantunan doa kuselipkan. Aku ingin pergi haji bersama ayahku. Aku ingin mengitari ka’bah bersamanya. Menuntunnya. Berlari kecil di sampingnya antara Shafa dan Marwa. Aku ingin membimbingnya. Aku ingin suatu hari ia melihatku berada di kampus kita, yang ia sangka terbaik di dunia. Aku ingin ia tahu kalau aku sudah bisa membaca Al-Quran di Masjid Nabawi. Aku ingin memanjatkan doa bersamanya di Raudhoh. Ingin kuceritakan ia tentang seluk beluk kota ini, kota impiannya. Seperti ia menceritakan padaku ketika aku kecil.
Kapankah itu? Entahlah, Kawan. Entahlah kapan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi. Tersenyum saat pergi haji.
…
Ayahku adalah lelaki tua seperti biasanya. Lelaki sepertinya bisa kita jumpai di mana saja. Tapi bagiku, ayah adalah lelaki istimewa. Aku bertahan di sini menunggunya. Menunggu keajaiban Tuhan untuknya. Akan tibakah saatnya?
...
Ini adalah cerita sederhana sebuah kata. Kata yang kita semua memilikinya. Entah kita masih memilikinya, atau telah tiada.
‘Ayah.’
Nb: Cerita diangkat dari kisah nyata seorang mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan tahun 1433-1434 H. Tulisan ini berhasil memenangkan Lomba Karya Tulis Bebas dan terpilih sebagai Juara Satu dalam acara tahunan Pekilo (Pekan Kegiatan Ilmiah dan Olahraga) UIM 1434 H.
via SALAFIYUNPAD via http://www.serambimadinah.net/index.php?option=com_content&view=article&id=122%3Acerita-sebuah-kata&catid=64%3Asastra&Itemid=77
13.32
Langganan:
Postingan (Atom)












